Surabaya, syiarmu.com – Menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks, Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Kota Surabaya melakukan langkah strategis untuk memperkuat akar organisasi. Bertempat di Masjid Al Azhar, Jalan Dupak Bandarejo, ribuan warga dan pimpinan ‘Aisyiyah berkumpul dalam balutan kekhusyukan Kajian Ramadhan 1447 H pada Ahad (1/3/2026).
Kegiatan yang mengusung tema besar “Keluarga sebagai Basis Utama Kaderisasi Muhammadiyah & ‘Aisyiyah” ini menghadirkan narasumber inspiratif, Ustazah Dra. Faridah Muwafiq. Beliau menekankan bahwa rumah bukan sekadar tempat berteduh, melainkan madrasah pertama untuk mencetak pelanjut estafet dakwah.
Latar belakang gerakan ini muncul dari sebuah realitas organisasi yang cukup menantang. Saat ini, banyak pimpinan dan warga ‘Aisyiyah yang sangat aktif berorganisasi. Namun, sering kali lupa melibatkan anak dan keluarga mereka sendiri.

Dampaknya terasa nyata. Pertama, krisis kader baru. Organisasi mulai kesulitan mencari wajah-wajah baru untuk memegang amanah. Kedua, beban amanah yang berat. Tugas persyarikatan terus bertambah dan menuntut efisiensi serta efektivitas tinggi. Ketiga, keberlanjutan misi. Tanpa dukungan kuat dari keluarga, peran dan misi organisasi sulit untuk berjalan secara berkesinambungan.
Keluarga dalam pandangan Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM) bukan hanya unit sosial kecil, melainkan tiang utama kehidupan umat. Di sanalah nilai-nilai Islam disosialisasikan untuk mewujudkan keluarga sakinah, mawadah, warahmah.

Dalam paparannya, Ustazah Faridah membagikan tips praktis nan bijak tentang cara mengader keluarga dengan pendekatan yang humanis. Pertama, pendekatan komunikasi (hikmah). Membiasakan musyawarah keluarga dan menyelipkan obrolan ringan tentang kelebihan berorganisasi saat sedang bepergian (safar) agar keluarga merasa simpati.
Kedua, pendekatan psikologis. Memulai dengan “kader kintilan”, yaitu membangun kedekatan emosional antara orang tua dan anak sejak dini, serta mengenalkan mereka pada lingkungan rekan organisasi.
Ketiga, pelibatan aktif. Mengajak anak membantu persiapan rapat, meminta saran mereka, atau sekadar meminta mereka mengantar ke tempat pengajian.

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik⦔ (QS An-Nahl: 125) menjadi landasan utama bahwa dakwah di dalam keluarga harus dilakukan dengan penuh kelembutan, bukan paksaan.
Kaderisasi ini tidak akan sukses tanpa dukungan sistem. Pimpinan organisasi diharapkan memberikan fasilitas yang memadai bagi kader keluarga, seperti akses ke Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), serta menciptakan suasana yang nyaman bagi “kader kintilan”.
“Jangan perhitungan dalam menyediakan konsumsi lebih atau menyapa ramah anak-anak pimpinan yang ikut ke pengajian. Sambutan hangat kita hari ini adalah bibit loyalitas mereka di masa depan,” pesan dalam materi tersebut.
Sebagai langkah lanjutan, orang tua didorong untuk mengarahkan putra-putrinya ke Organisasi Otonom (Ortom) sesuai jenjang usia yaitu Nasyiatul ‘Aisyiyah (NA) untuk remaja putri/ibu muda, Pemuda Muhammadiyah untuk pemuda, IPM & IMM untuk pelajar dan mahasiswa, serta Tapak Suci Hizbul Wathan untuk penguatan fisik dan karakter.
Melalui momentum Ramadhan 1447 H ini, PDA Kota Surabaya mengajak seluruh warga persyarikatan untuk menjadikan rumah sebagai lumbung kader, demi memastikan cahaya dakwah Muhammadiyah tetap bersinar di masa depan. (Nila/Fikri)
