Wakil Ketua PCM Krembangan Jejakkan Kaki di Ujung Timur Indonesia, Saksikan Harmoni dan Semangat Perbatasan Merauke

Merauke, syiarmu.com – Wakil Ketua PCM Krembangan Surabaya, Ahmad Nur Muhaimin, S.Ud., menapakkan kaki di ujung timur Indonesia, tepatnya di Kabupaten Merauke, Papua Selatan. Kunjungan pada Selasa (10/3/2026) ini menjadi momen reflektif sekaligus inspiratif, menyaksikan langsung denyut kehidupan masyarakat perbatasan yang penuh keberagaman dan semangat kebangsaan.

Merauke dikenal sebagai wilayah yang heterogen. Berbagai suku asli Papua hidup berdampingan dengan pendatang dari Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara, hingga Maluku. Harmoni sosial tampak dalam aktivitas keseharian masyarakat yang saling berinteraksi di pasar, sekolah, hingga rumah ibadah. Keberagaman tersebut menjadi potret nyata Indonesia dalam bingkai persatuan.

Salah satu titik yang dikunjungi adalah Titik 0 Kilometer di kawasan PLBN Sota, Pos Lintas Batas Negara Indonesia dengan Papua Nugini. Di lokasi inilah batas geografis Indonesia berakhir di timur, sekaligus menjadi simbol kedaulatan negara. Tugu penanda batas berdiri kokoh di tengah hamparan savana yang luas.

Menariknya, masyarakat Papua Nugini yang berada di wilayah perbatasan masih dapat melintas ke Indonesia untuk beraktivitas, termasuk berdagang dan bersekolah, sesuai ketentuan lintas batas tradisional. Interaksi lintas negara ini memperlihatkan hubungan sosial yang telah terjalin lama antarwarga di dua sisi perbatasan.

Secara geografis, kondisi tanah di Merauke didominasi hamparan dataran rendah dan savana luas dengan struktur tanah relatif kering dan berpasir di beberapa wilayah. Pada Maret 2026, Merauke berada dalam periode cuaca panas dengan intensitas matahari cukup tinggi. Siang hari terasa terik dengan suhu hangat, sementara angin savana berembus kering. Meski demikian, di beberapa titik masih terdapat lahan subur yang dimanfaatkan untuk pertanian dan perkebunan.

Merauke juga memiliki kekayaan fauna khas Papua. Burung cenderawasih dengan bulu indahnya menjadi ikon kebanggaan Tanah Papua. Selain itu terdapat kasuari yang bertubuh besar dan tidak bisa terbang, serta kanguru pohon yang hidup di kawasan hutan Papua. Keanekaragaman hayati ini menunjukkan betapa kayanya alam di ujung timur Indonesia.

Kunjungan ini menjadi pengingat bahwa masyarakat asli Papua hidup dengan kesederhanaan, namun memiliki keteguhan dan semangat yang luar biasa. Di tengah keterbatasan akses dan tantangan geografis, mereka tetap menjaga budaya, tanah adat, dan nilai kebersamaan.

Muhaimin menyampaikan bahwa Merauke mengajarkan arti ketahanan dan kecintaan pada tanah air. “Dari ujung timur Indonesia kita belajar bahwa persatuan bukan sekadar slogan, tetapi kenyataan yang hidup di tengah masyarakat perbatasan,” ujarnya.

Semangat masyarakat asli Papua adalah inspirasi bagi seluruh anak bangsa: keterbatasan bukan alasan untuk berhenti melangkah, melainkan pijakan untuk terus maju, menjaga negeri, dan membangun masa depan bersama dalam bingkai NKRI. (Muha/Fikri)

Tinggalkan komentar