Oleh: H. Sutikno, S.Sos, M.H
Tokoh masyarakat/agama
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI), cara manusia berinteraksi mengalami perubahan besar. Teknologi kecerdasan buatan (AI) bukan lagi sekadar alat bantu, melainkan bagian dari napas keseharian.
Di hari raya Idulfitri, pesan maaf bisa dikirim oleh asisten virtual dengan bahasa yang sangat puitis. Namun, di tengah kecanggihan yang serba otomatis, muncul pertanyaan besar: “Masihkah kita merasakan hangatnya koneksi manusia yang nyata?”
Idulfitri hakikatnya adalah momen untuk mendekatkan yang dekat. Namun, ironinya kita merasa jauh saat berada di ruang tamu yang sama. Inti dari mendekatkan yang dekat adalah mengembalikan aspek humanisme di dalam setiap pertemuan.

Silaturahmi dalam Islam bukan sekadar menyambung komunikasi, tetapi menyambung hati; bukan tentang seberapa sering mengirim pesan, tetapi seberapa dalam kepedulian kita terhadap sesama. Di dalam Al-Qur’an, Allah berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 1:
“Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya, kamu saling meminta dan peliharalah hubungan silaturahmi.”
Menemukan kembali makna silaturahmi berarti melatih diri untuk hadir sepenuhnya. Saat berkunjung ke rumah kerabat, cobalah untuk meletakkan gawai sejenak agar kita fokus mendengarkan cerita masa lalu serta menikmati hidangan yang ada.

Di dunia yang semakin terpolarisasi oleh algoritma, Idulfitri adalah momen untuk meruntuhkan sekat-sekat tersebut. Merayakan Idulfitri 1447 H di era AI adalah menjaga keseimbangan. Kita tidak perlu menolak kemajuan teknologi, namun bagaimana teknologi ini malah mempererat ikatan tali silaturahmi.
Akhirnya, mari kita jadikan momentum ini untuk menemukan makna silaturahmi yang sesungguhnya; bukan sekadar terhubung, tetapi benar-benar menyambung. Yang kita butuhkan bukan sekadar teknologi canggih, tetapi hati yang tetap hangat di tengah dunia yang semakin cepat. (Sutikno/Fikri)
