Sidoarjo, syiarmu.com – Suasana khidmat menyelimuti Lapangan SDN Suwaluh 1, Desa Suwaluh, Kecamatan Balongbendo, Kabupaten Sidoarjo, pada Jumat pagi (20/3/2026).
Bertepatan dengan 1 Syawal 1447 H, sekitar 500 jemaah dari warga sekitar berkumpul untuk melaksanakan ibadah Salat Idulfitri berjamaah dengan penuh antusiasme.
Bertindak sebagai imam sekaligus khatib dalam pelaksanaan tahun ini adalah Ustaz Fatahillah, Lc. Dalam khutbahnya, beliau menekankan pentingnya menjaga nikmat keamanan yang saat ini dirasakan oleh masyarakat Indonesia, terutama di tengah kondisi ketidakpastian global.
Ustaz Fatahillah membuka narasinya dengan mengajak jemaah melihat realitas dunia internasional, khususnya konflik yang tengah berkecamuk di Timur Tengah.

Beliau menggambarkan betapa mengerikannya kondisi di wilayah konflik, di mana fasilitas sipil hancur, nyawa melayang tanpa pandang bulu, hingga terhentinya aktivitas ibadah rutin seperti salat jemaah dan salat Jumat akibat ketiadaan rasa aman.
“Keamanan dan stabilitas kawasan menjadi kebutuhan mendasar bagi kaum muslimin. Sebab, ketika keamanan terjaga, maka terjaga pula seluruh jiwa, kehormatan, dan harta benda,” tegas Ustaz Fatahillah di hadapan ratusan jemaah yang memadati lapangan.

Lebih lanjut, alumnus perguruan tinggi Timur Tengah ini merinci enam langkah strategis yang harus diambil oleh setiap individu muslim untuk menjaga kedamaian di tanah air:
- Penguatan Tauhid dan Kontrol Diri: Keamanan nasional berawal dari individu yang memiliki integritas moral dan rasa takut kepada Allah untuk tidak merugikan sesama.
- Syukur atas Keberagaman: Mensyukuri nikmat keamanan di “rumah besar” Indonesia agar terhindar dari bibit-bibit perpecahan.
- Kepatuhan pada Konsensus Nasional: Pentingnya menghormati aturan yang berlaku dan hasil musyawarah demi stabilitas negara.
- Budaya Tabayyun: Di era informasi, masyarakat diminta bijak dalam berpendapat. Jangan menyebar fitnah atau hoaks yang provokatif, melainkan selalu melakukan cek dan ricek (tabayyun).
- Kewaspadaan Kolektif: Menjaga keamanan adalah tugas gotong-royong seluruh lapisan masyarakat, termasuk bijak dalam bermedia sosial agar tidak memicu ketakutan massal.
- Doa untuk Pemimpin: Mendoakan agar para pemimpin di tingkat pusat maupun daerah senantiasa diberikan sifat amanah, adil, dan bijaksana dalam menjalankan tugasnya.
Sebelum mengakhiri khutbah, Ustaz Fatahillah juga menyelipkan nasihat khusus bagi kaum ibu (Ummahat) untuk memperbanyak sedekah sebagai bentuk syukur pasca-Ramadan.
Beliau pun berpesan kepada sesama mubalig untuk mengikuti sunnah Nabi SAW dengan memendekkan durasi khutbah namun memanjangkan kualitas salat, sebagai cerminan dalamnya pemahaman agama seseorang.
Khutbah ditutup dengan doa bersama yang menggetarkan hati jemaah, memohon ampunan bagi kaum muslimin serta kedamaian yang abadi bagi seluruh rakyat Indonesia. (Muha/Fikri)
