Oleh: H. Sutikno, S.Sos, M.H
Tokoh masyarakat/agama
Lebaran Ketupat, atau yang sering disebut Bakda Kupat di tanah Jawa, merupakan fenomena unik saat batas antara ketaatan agama dan kekayaan budaya melebur menjadi satu. Dirayakan tepat seminggu setelah 1 Syawal (biasanya pada 8 Syawal), tradisi ini tidak hanya menjadi perayaan kuliner semata, tetapi juga sarat makna spiritual, sosial, dan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Terdapat tiga perspektif atau tinjauan mengenai Lebaran Ketupat:
- Perspektif Agama
Lebaran Ketupat sering dikaitkan dengan anjuran menjalankan puasa sunah enam hari di bulan Syawal. Hal ini merujuk pada hadis Nabi Muhammad ﷺ yang menyebutkan bahwa siapa pun yang berpuasa Ramadan kemudian melanjutkan dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa sepanjang tahun.
Jadi, jika Idulfitri adalah kemenangan setelah Ramadan, maka Lebaran Ketupat adalah selebrasi rasa syukur atas tuntasnya ibadah tambahan yang menyempurnakan kesucian diri.
- Perspektif Budaya
Lebaran Ketupat menunjukkan bagaimana Islam berakulturasi dengan kearifan lokal. Tradisi ini sering dikaitkan dengan peran Sunan Kalijaga, salah satu tokoh Walisongo yang dikenal menggunakan pendekatan budaya dalam dakwahnya.

Melalui simbol-simbol sederhana tentang ketupat, terdapat makna mendalam sebagai berikut. Ngaku Lepat, Mengakui kesalahan. Prosesi saling memaafkan disimbolkan dengan anyaman janur yang rumit, menggambarkan kerumitan dosa manusia yang hanya bisa diurai dengan silaturahmi.
Laku Papat, Empat tindakan, yaitu Lebaran (usai), Luberan (melimpah/sedekah), Leburan (lebur dosa), dan Laburan (suci kembali).
- Perspektif Tradisi
Dalam praktiknya, Lebaran Ketupat adalah momen gotong royong. Tetangga saling mengantar ketupat lengkap dengan sayur lodeh atau opor ayam. Tradisi ini memperkuat kohesi sosial di masyarakat. Di tengah kehidupan modern yang cenderung individualistis, tradisi ini menjadi pengingat pentingnya kebersamaan dan gotong royong.

Dengan demikian, Lebaran Ketupat bukan sekadar tradisi makan ketupat, melainkan simbol harmonisasi antara nilai agama, budaya, dan kehidupan sosial.
Hal ini menjadi bukti betapa indahnya akulturasi. Ia tidak menggantikan hari raya utama, melainkan memperkayanya. Melalui sebutir ketupat, kita diajarkan untuk mengakui kesalahan, berbagi rezeki, dan menjaga konsistensi ibadah pasca-Ramadan.
Ia adalah harmoni antara hablun minallah (hubungan dengan Tuhan) dan hablun minannas (hubungan dengan manusia). (Sutikno/Fikri)
