LDK PP Muhammadiyah Hadiri Syawalan di Yogyakarta

Yogyakarta, syiarmu.com – Jarak dan waktu rupanya bukan penghalang untuk merajut silaturahmi. Itulah yang ditunjukkan oleh tim Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah pada Jumat (27/3/2026). Demi menghadiri Syawalan Keluarga Besar PP Muhammadiyah, mereka rela menempuh jalur darat melalui Tol Trans-Jawa sejak dini hari.

Tepat pukul 03.30 WIB, saat sebagian orang mungkin masih terlelap, dr. Zuhrotul Mar’ah (Divisi Marginal) dan Ahmad Nur Muhaimin (Divisi Digital) sudah bertolak meninggalkan Surabaya. Perjalanan darat selama lima jam itu membuahkan hasil; pukul 08.30 WIB, mereka sudah tiba di halaman Kantor PP Muhammadiyah, Jl. Cik Di Tiro No. 23, Yogyakarta, untuk mengikuti agenda silaturahmi dengan penuh semangat.

Di dalam gedung yang sarat sejarah tersebut, suasana terasa begitu hangat namun tetap khidmat. Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Haedar Nashir, memberikan “vitamin” ideologi bagi para kader yang hadir. Sorotan utamanya adalah mengenai kedewasaan dalam menyikapi perbedaan.

Ada beberapa poin refleksi penting dari pesan Haedar Nashir yang perlu digarisbawahi. Haedar menegaskan bahwa perbedaan penentuan Idulfitri jangan sampai memicu sikap terbawa perasaan (baper).

Sebaliknya, warga Muhammadiyah harus menunjukkan sikap “Akil Balig”, sebuah terminologi yang menekankan pada kecerdasan berpikir dan kematangan emosional dalam beragama.

Sebagai gerakan tajdid (pembaruan), Muhammadiyah harus menjadi contoh bagaimana mengelola perbedaan hasil ijtihad secara ilmiah dan elegan, bukan dengan kegaduhan.

Di tengah riuhnya komentar di media sosial, warga persyarikatan diingatkan untuk tetap menjaga kerukunan dan tidak terjebak dalam perdebatan yang menguras energi tanpa manfaat.

Kehadiran dr. Zuhrotul dan Ahmad Nur Muhaimin bukan sekadar formalitas. Bagi LDK, momen ini adalah ajang recharging energi untuk melanjutkan misi dakwah di komunitas marginal dan ruang digital.

“Perjalanan subuh dari Surabaya ini adalah bentuk takzim kami. Pesan Pak Haedar sangat relevan; dakwah di lapangan, baik itu mendampingi masyarakat marginal maupun mengelola konten digital, butuh kedewasaan dan ketenangan,” tutur dr. Zuhrotul.

Acara pun ditutup dengan saling bermaafan dan ramah tamah yang cair. Gelak tawa dan jabat tangan hangat antar-pimpinan serta anggota lembaga menjadi penanda bahwa sinergi Muhammadiyah semakin solid untuk menghadapi tantangan ke depan. (Muha/Fikri)

Tinggalkan komentar