Jaga Kualitas Ibadah, Jadikan Setiap Hari Seperti Lailatulqadar

Oleh: H. Sutikno, S.Sos., M.H.
Ketua Takmir Masjid Al Azhar

Banyak umat Muslim menantikan datangnya Lailatulqadar, malam penuh kemuliaan yang lebih baik daripada seribu bulan. Umat Muslim berbondong-bondong meningkatkan ibadahnya pada sepuluh malam terakhir Ramadan, sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Qadr ayat 1–3:

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.”

Namun, para ulama sering memberikan pesan hikmah bahwa ada esensi spiritualitas yang lebih dalam dengan memiliki semangat ibadah setiap hari, sehingga muncul ungkapan, “Jadikan setiap harimu seperti Lailatulqadar.”

Pernyataan ini adalah sebuah metafora sekaligus motivasi agar seorang Muslim tidak hanya giat beribadah pada malam tertentu saja. Hal ini menggambarkan bahwa seluruh waktu yang Allah berikan adalah kesempatan berharga untuk mengumpulkan pahala. Allah mengingatkan manusia dalam Surah Al-‘Asr ayat 1–3:

“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, dan saling menasihati dalam kebenaran serta kesabaran.”

Meskipun secara tekstual Lailatulqadar hanya terjadi pada bulan Ramadan, semangat untuk beribadah setiap hari dengan kualitas “malam kemuliaan” didasarkan pada prinsip istiqomah. Rasulullah bersabda, “Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang rutin dilakukan meskipun sedikit.” (HR Bukhari dan Muslim).

Istiqomah adalah “karamah” yang sesungguhnya. Jika Lailatulqadar menawarkan pahala seribu bulan dalam satu malam, istiqomah menawarkan kehadiran Allah di setiap detik kehidupan. Artinya, seluruh umur ini adalah “waktu mulia” yang harus diisi dengan kesadaran penuh (mindfulness) kepada Sang Pencipta.

Mengapa kita harus menganggap setiap hari adalah Lailatulqadar?

  1. Menghindari ibadah musiman
    Banyak orang menjadi seperti malaikat di bulan Ramadan, namun kembali menjadi “preman” setelahnya. Dengan menganggap setiap hari itu penting dan berusaha untuk konsisten, kita akan menjaga stabilitas iman.
  2. Kesadaran akan maut
    Kita tidak pernah tahu kapan “malam terakhir” kita tiba. Jika menganggap malam ini adalah Lailatulqadar, kita akan beribadah dengan khusyuk dan memohon ampunan atas dosa-dosa kita, seolah-olah ini adalah ibadah perpisahan.
  3. Keagungan Allah dalam rutinitas
    Ibadah bukan hanya sujud di atas sajadah. Bekerja mencari nafkah, tersenyum kepada tetangga, dan menahan marah adalah manifestasi dari semangat Lailatulqadar jika dilakukan dengan niat karena Allah.

Kita tidak harus menunggu setahun sekali untuk menjadi baik. Ibadah sejati adalah mengubah karakter, bukan sekadar mengejar pahala di kalender. Dengan demikian, setiap amal akan selalu bernilai di sisi Allah. Walaupun kita tidak mengetahui secara pasti kapan Lailatulqadar datang, kita tetap mendapatkan keberkahan karena menjalani ketaatan kepada-Nya setiap hari. (Sutikno/Fikri)

Tinggalkan komentar