Ibrahim Bukan Sekadar Kisah, tapi Jalan Hidup Umat Islam

syiarmu.com

Oleh: H. Sutikno, S.Sos., M.H.
Ketua Takmir Masjid Al Azhar

Dalam sejarah para nabi, sosok nabi Ibrahim memiliki kedudukan istimewa, beliau bukan hanya dikenal sbg bapak para nabi (Abul Anbiya) dan mendapat gelar Khalilullah (Kekasih Allah).

Dalam Al-Qur’an Surah An-Nahl ayat 120, Allah berfirman: “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan).”
Gelar “imam” atau pemimpin umat ini menunjukkan bahwa setiap langkah hidupnya adalah standar kebenaran yang wajib diikuti.

Perjalanan hidup nabi Ibrahim AS bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan fondasi dari banyak ritual ibadah umat islam hingga hari ini. Mengapa figur Nabi Ibrahim begitu Sentral hingga syariat nya di abadikan oleh Allah SWT sampai hari kiamat?

Pertama, simbol ketauhidan murni. Di tengah masyarakat yang menyembah berhala, beliau mencari Tuhannya dengan akal kritis dan hati yang bersih hingga menemukan ketauhidan murni.

Selama hidup nabi Ibrahim dihadapkan pada rangkaian ujian berat mulai dari dibakar Raja Namrud, meninggalkan istri (Hajar) dan bayinya (Ismail) di gurun gersang tanpa air, hingga menyembelih anak kandungnya sendiri.

Semua itu dilaksanakan tanpa ragu dan penyerahan diri total yang menjadi esensi dari kata islam itu sendiri. Allah SWT berfirman dalam surah Ali Imran: 95 mengenai syariat Nabi Ibrahim yang harus diikuti yang artinya “Katakanlah (Muhammad), ‘Benarlah (segala firman) Allah.’ Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan dia tidaklah termasuk orang-orang yang musyrik.”

Kedua, Akar Sejarah Ritual Ibadah Haji. Ibadah haji secara langsung menelusuri jejak fisik perjuangan keluarga Nabi Ibrahim AS. Ka’bah yang menjadi kiblat umat IsIam dibangun oleh nabi Ibrahim & nabi Ismail, Allah berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 127 “(Ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan fondasi Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), “Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Sa’i dari Safa ke Marwa merupakan napak tilas kegigihan Siti Hajar yang berlari bolak-balik mencari air untuk putranya Ismail di tengah turunnya tandus, hingga Allah memancarkan air Zam-zam.

Lempar Jumroh, mengenang momen ketika nabi Ibrahim melempar batu kepada setan yang menggoda agar membatalkan perintah Allah

Wukuf di Arafah menggambarkan kesetaraan & ketundukan manusia di hadapan Allah.

Ketiga, Kurban pada hari raya idul adha. Ibadah kurban ini secara langsung mengabadikan peristiwa nabi Ibrahim diuji untuk menyembelih putra tercintanya nabi Ismail, semata-mata karena perintah Allah yang kemudian mengganti nya dengan seekor domba besar.

Ujian ini bukan karena Allah haus darah, melainkan ujian untuk mengikis ego dan kecintaan buta pada dunia (yang disimbolkan oleh anak).

“Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan mencapai (keridhaan) Allah, tetapi yang mencapai (keridhaan)-Nya adalah ketakwaan kamu.” (QS. Al-Hajj: 37)

Umat IsIam mengikuti jalan hidup nabi Ibrahim karena beliau potret ideal seorang hamba dan sebagai simbol kepasrahan total kepada Allah SWT yang patuh tanpa tapi. (Sutikno/Fikri)

Tinggalkan komentar