Surabaya, syiarmu.com – Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Morokrembangan kembali menggelar Kajian Iftitah rutin pada Kamis malam (18/6/2026). Bertempat di pusat dakwah ranting, kajian yang dimulai pukul 19.00 WIB hingga selesai ini menghadirkan Ustadz Ahmad Masduki, Lc MA. sebagai pemateri utama, dengan mengangkat tema yang sangat krusial “Menjaga Tauhid di Bulan Muharram”.
Dalam tausiyahnya, Ustadz Ahmad Masduki membuka kajian dengan memaparkan sejarah dan asal-usul pensyariatan puasa sunnah di bulan Muharram (Asyura), yang berakar dari rasa syukur atas diselamatkannya Nabi Musa as. dari kejaran Firaun.

Beliau juga membagikan kisah penuh hikmah tentang ketegasan Sahabat Umar bin Khattab ra. Kala itu, masyarakat Mesir memiliki tradisi syirik menumbalkan seorang gadis ke Sungai Nil agar airnya mengalir. Umar kemudian mengirimkan sepucuk surat untuk Sungai Nil yang menegaskan bahwa air mengalir atas kehendak Allah, bukan karena tumbal. Surat tersebut dibuang ke sungai, dan atas izin Allah, air kembali mengalir sekaligus meruntuhkan tradisi kesyirikan di sana.
Menyoroti Realita “Bulan Syura” di Masyarakat, Ustadz Ahmad Masduki menyayangkan realita yang terjadi pada sebagian masyarakat Indonesia saat memasuki bulan Muharram atau yang sering disebut bulan Syura. Menurutnya, banyak tradisi yang berkembang justru sangat bertolak belakang dengan nilai-nilai keimanan.

“Banyak yang masih melakukan ritual mencuci benda pusaka dengan keyakinan bahwa benda tersebut bisa mendatangkan kebaikan atau menjauhkan keburukan. Ada juga mitos bahwa menikah di bulan Syura akan mendatangkan malapetaka dalam rumah tangga. Ini adalah bentuk syirik yang nyata,” tegas beliau di hadapan para jemaah.
Beliau kemudian menyampaikan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah Al-An’am ayat 82.
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Merujuk pada tafsir ayat tersebut, Ustadz Ahmad Masduki menjelaskan bahwa kata “bizhulin” (dengan kezaliman) bermakna berbuat syirik. Tafsir ini menegaskan larangan keras menyekutukan Allah dengan suatu apa pun.
Dampak dari mencampuradukkan iman dengan praktik syirik dan takhayul akan merusak kemurnian iman itu sendiri.
Keutamaan aqidah dan keimanan yang murni bersih dari noda syirik yang akan menjadi perisai bagi seorang hamba, serta menyelamatkannya dari siksa kubur dan pedihnya siksa api neraka.
Di akhir kajian, Ustadz Ahmad Masduki memberikan pesan menyentuh sekaligus ajakan kepada seluruh jemaah PRM Morokrembangan yang hadir. “Bulan Muharram ini momentum bagi kita untuk bersih-bersih aqidah. Mari kita jaga diri kita, keluarga kita, serta anak keturunan kita agar senantiasa mampu menjaga kemurnian iman.
Jangan biarkan tauhid kita tergores oleh mitos-mitos yang tidak berdasar,” pungkasnya. Kajian Iftitah ini berlangsung dengan khidmat dan interaktif, ditutup dengan sesi tanya jawab yang memperluas wawasan keislaman warga Morokrembangan. (Wahid/Fikri)
