Surabaya, syiarmu.com – Pada Ahad (3/8/2025) diadakan Pengajian Keluarga Sakinah di masjid Al Azhar, Dupak Bandarejo 25, Surabaya. Mubalig kajian bulanan itu adalah M. Ruman Nasruddin MPdI. Tema yang dibahas adalah “The Power of Uswah.”
Uswah berarti keteladanan. Uswah menjadi strategi terbaik dan efektif Rasulullah saw. dalam berdakwah. Beliau berdakwah di Mekkah selama 13 tahun dan di Madinah 10 tahun. Melalui dakwah dengan cara seperti itu muncullah generasi terbaik.
Melalui dakwah itu pula Islam bisa ekspansi ke berbagai daerah. Penulis buku “100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia” yakni Michael H. Hart bahkan menempatkan Rasulullah dalam urutan pertama orang paling berpengaruh di dunia.

Orang Islam yang beriman tentu harus bersyukur menjadi umat Rasulullah. Beliau adalah rasul akhir zaman, mulia, dicintai Allah, dan berjuang bagi umat. Bahkan sebelum meninggal yang diingat adalah umatnya.
Allah berfirman dalam surah Ali Imran ayat ke-164 yang artinya “Sungguh, Allah benar-benar telah memberi karunia kepada orang-orang mukmin ketika (Dia) mengutus di tengah-tengah mereka seorang Rasul (Muhammad) dari kalangan mereka sendiri yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab Suci (Al-Qur’an) dan hikmah. Sesungguhnya mereka sebelum itu benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”

Suatu ketika Aisyah ditanya sahabat tentang akhlak Rasulullah. “Wahai Ummu al-Mu’minin, beritahukanlah kepadaku tentang akhlaq Rasulullah saw, maka Aisyah menanyainya kembali: apakah kamu tidak membaca Al-Quran? maka aku menjawab: iya. Maka Aisyah menjawab: sesunggunnya akhlaq Rasulullah saw ialah Al-Quran” (HR. Muslim).
Dalam surah Al Qalam ayat ke-4 pun Allah berfirman yang artinya “Sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.”
Dalam surah Al Ahzab ayat ke-21 Allah juga berfirman yang artinya “Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.”

Nabi Ibrahim pun juga dijadikan Allah teladan bagi umat Islam. Dalam surah Al Mumtahanah ayat ke-4 Allah berfirman yang artinya “Sungguh, benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu pada (diri) Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya ketika mereka berkata kepada kaumnya, “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah.”
“Apapun masalahnya, kalau kita yakin kuasa Allah itu ada dan kita berusaha, maka masalah itu akan selesai,” imbuh trainer dan penulis buku tersebut.
Rasulullah memimpin dan membimbing umat dengan keteladanan. Mulai dari sifatnya yang pandai, amanah, jujur, adil, bijaksana, dan sederhana. Sebelum meninggal, Rasulullah telah berpesan kepada umatnya.
“Sungguh telah aku tinggalkan pada kalian sesuatu yang tidak akan menjadikan kalian tersesat selagi kalian berpegang teguh dengannya yaitu Al-Qur’an dan Sunah nabi-Nya”
Sekalipun Rasulullah dijamin masuk surga oleh Allah, tetapi beliau tetap beribadah dengan sangat khusyuk. Rasulullah Saw. sampai bengkak kedua kakinya karena shalat malam yang dikerjakannya. Dikatakan kepada
Rasulullah Saw., “Mengapa engkau
melakukan hal ini padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang lalu dan akan datang?” Beliau bersabda, “Apakah tidak boleh aku menjadi hamba yang bersyukur?’”
Ketika di rumah, Rasulullah membantu istrinya membersihkan rumah. Di masyarakat, beliau terkenal sebagai Al Amin. Peletakan batu hajar aswad pun dipercayakan kepada beliau. Rasulullah tegas kepada orang kafir dan sayang kepada sesama. “Nabi Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya bersikap keras terhadap orang-orang kafir (yang bersikap memusuhi), tetapi berkasih sayang sesama mereka. (QS. Al Fath: 29).
“Uswah lebih dahsyat daripada tausiah. Keteladanan lebih berarti daripada ucapan,” ujar penulis buku “Urusan Anak Japri Allah” tersebut.
Pada akhir kajian hadirin dipaparkan lima tips menjadikan anak sholeh dan sholehah. Pertama, pastikan orang tua bersifat sholeh dan sholehah. Kedua, memulai dari ibadah atau hal yang mudah. Ketiga, lakukan apa yang diucapkan. “Sangat besarlah kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash Shaf: 3).
Keempat, balas kejahatan dengan kebaikan. Kelima, memiliki rasa penuh cinta dan pemaaf. “Betapa luar biasanya Rasulullah ketika dilempar kotoran atau batu, tetapi beliau tidak membalas,” ucapnya. (Fikri)
