Surabaya, syiarmu.com – Langit pagi di kawasan Sidoyoso tampak teduh meski sempat diguyur gerimis ringan. Namun rintik hujan itu tak menyurutkan langkah ratusan siswa-siswi SD Muhammadiyah 10 Surabaya (Mumtas) yang penuh semangat menyambut datangnya bulan suci Ramadan yang tahun ini jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026.
Pada Jumat (13/2/2026) sejak pagi halaman sekolah telah dipenuhi wajah-wajah ceria. Dengan balutan seragam putih bersih; siswi mengenakan jilbab hitam, sementara siswa memakai kopyah hitam, mereka bersiap menggelar Pawai Ramadan.
Barisan rapi itu kemudian bergerak menyusuri gang demi gang di sepanjang Jalan Sidoyoso–Granting, menebarkan pesan kebaikan kepada masyarakat.

Tabuhan ritmis dari Drum Band Bahana Surya mengiringi langkah kecil penuh keyakinan itu. Dentuman bass dan suara snare memecah suasana pagi, menghadirkan semarak di bawah langit Sidoyoso yang sedikit berawan.
Warga yang berdiri di depan rumah tampak tersenyum, anak-anak kecil pun turut bahagia. Sebagian melambaikan tangan.
Di tengah perjalanan, gerimis sempat turun. Butiran air membasahi poster-poster bertuliskan “Marhaban Ya Ramadan” dan ajakan untuk berpuasa. Namun para generasi Qurani itu tetap melaju. Wajah-wajah mungil mereka justru tampak semakin bersinar, seolah hujan menjadi saksi semangat yang tak mudah padam.

IPM Kids SD Mumtas turut mengawal jalannya pawai, memastikan barisan tetap tertib dan penuh keceriaan. Para guru pun sigap mendampingi dari sisi kanan dan kiri, menjaga keselamatan sekaligus memberi semangat kepada anak didiknya.
Kebersamaan itu terasa hangat—sebuah potret pendidikan yang tak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga nilai dan keteladanan.
Sebelum keberangkatan, Kepala Sekolah, M. Khoirul Anam, M.Pd.I., menyampaikan pesan penuh makna kepada para siswa. Ia menegaskan bahwa pawai ini adalah bentuk syiar, mengabarkan kepada masyarakat bahwa sebentar lagi bulan puasa akan tiba.
“Kita sambut dengan gembira dan suka cita. Karena Ramadan bulan penuh berkah dan maghfirah. Siapkan niatnya, siapkan fisiknya, agar bisa berpuasa satu bulan penuh,” pesannya.
Lebih dari sekadar pawai, kegiatan ini menjadi pembelajaran nyata tentang makna persiapan, kebersamaan, dan dakwah yang santun. Di tengah derasnya arus zaman, langkah-langkah kecil itu membawa harapan besar bahwa Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang menumbuhkan iman sejak usia belia.
Dari gang ke gang, gema kalimat thoyibah dan lantunan semangat itu seakan mengingatkan: Ramadan adalah bulan kemenangan. Di Sidoyoso pagi itu, kemenangan telah dimulai dari hati anak-anak yang berseri menyambutnya dengan penuh cinta dan sukacita. (Afuw Elkhoir/Fikri)
