Menyikapi Perbedaan Awal Ramadan: Menjadikan Keberagaman sebagai Rahmat, Bukan Sekat

Oleh: H. Sutikno, S.Sos., M.H.
Ketua Takmir Masjid Al Azhar

Setiap tahun, umat Islam di Indonesia hampir selalu dihadapkan pada perbedaan penetapan awal Ramadan; sebagian memulai puasa terlebih dahulu, sebagian menyusul kemudian. Perbedaan ini kerap menimbulkan perbincangan, bahkan tidak jarang memicu perdebatan di tengah masyarakat. Fenomena ini muncul karena perbedaan metode yang digunakan, yakni hisab (perhitungan astronomi) dan rukyatulhilal (melihat bulan secara langsung).

Penting bagi kita untuk menyadari bahwa perbedaan ini bukan bentuk perpecahan akidah, melainkan manifestasi dari kekayaan ijtihad dalam Islam. Kelompok yang menggunakan hisab berpegang pada kepastian matematis, sementara yang menggunakan rukyat mengikuti tradisi tekstual pengamatan fisik; keduanya memiliki dalil yang kuat.

Langkah Menjaga Ukhuwah Islamiyah

  1. Mengedepankan Tasamuh (Toleransi)

Menghargai saudara kita yang memulai puasa lebih awal atau lambat tanpa harus mencela. Ibadah adalah urusan vertikal antara hamba dan sang Khalik.

  1. Fokus pada Persamaan

Alih-alih meributkan tanggal 1 Ramadan, ingatlah bahwa kita menyembah Tuhan yang sama, membaca Al-Qur’an yang sama, dan menahan lapar dengan niat yang sama.

  1. Meninggalkan Debat Kusir di Media Sosial

Gesekan sering kali bukan terjadi di dunia nyata, melainkan melalui komentar di jagat maya. Maka, berhentilah membagikan komentar yang bersifat provokatif.

  1. Kebijaksanaan Pemimpin dan Tokoh Agama

Peran ulama sangat krusial untuk memberikan edukasi bahwa perbedaan itu adalah rahmat, bukan alasan untuk saling menghujat.

Perbedaan awal puasa hendaknya dipakai sebagai ujian kedewasaan umat Islam, apakah kita mampu menjadikan Ramadan sebagai momentum memperkuat persaudaraan atau justru memperlebar jurang perpecahan. Marilah kita memperluas cakrawala berpikir dan mempertebal kasih sayang.

Dengan menjaga lisan dan hati, ukhuwah islamiyah akan tetap kokoh, menjadikan ibadah puasa kita lebih bermakna dan berkualitas. Semoga Ramadan, kapan pun kita memulainya, benar-benar menjadi bulan yang menghadirkan rahmat, persatuan, dan keberkahan bagi seluruh umat. (Sutikno/Fikri)

Tinggalkan komentar