Dakwah Melalui Aksi: Jaga Bumi dengan Ibadah Memilah Sampah

Oleh: H. Sutikno, S.Sos., M.H.
Ketua RT 06 RW 03 Dupak Bandarejo

Setiap tanggal 21 Februari, bangsa Indonesia memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN). Bagi kita, urusan sampah bukan sekadar soal kebersihan yang tampak oleh mata, tetapi tanggung jawab kita semua untuk menjaga bumi dari ancaman sampah. Di lingkungan RT kami, kehadiran Bank Sampah Nusa Indah adalah panggilan dakwah untuk mengajak warga agar peduli, bergerak, dan berubah bersama.

Islam telah lama menganjurkan pentingnya kebersihan dan kelestarian lingkungan. Rasulullah bersabda, “Kebersihan adalah sebagian dari iman” (HR Muslim). Bahkan di dalam Al-Qur’an, Allah berfirman di dalam Surah Al-A’raf ayat 56: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya.”

Ayat ini menegaskan bahwa merusak lingkungan, termasuk dengan membuang sampah sembarangan, adalah bentuk kemungkaran yang harus dicegah.

Sebagai Ketua RT, saya meyakini bahwa dakwah tidak harus dilakukan di atas mimbar, tetapi juga melalui aksi nyata. Kehadiran Bank Sampah Nusa Indah di lingkungan kami merupakan wujud dakwah dengan perbuatan.

Bank Sampah Nusa Indah yang ada di RT 06 RW 03 Dupak Bandarejo mempunyai 40-an nasabah yang tidak semuanya warga RT 06. Di tahun 2025 ini, bank sampah tersebut bisa mengumpulkan perolehan sekitar Rp12.000.000,00 per tahun.

Bank sampah mengajarkan nilai tanggung jawab, disiplin, dan gotong royong. Ibu-ibu rumah tangga menjadi pelopor pemilahan sampah. Lebih dari itu, gerakan ini juga berdampak ekonomi. Sampah plastik, kertas, logam, dan minyak jelantah yang disetorkan di Bank Sampah Nusa Indah dapat menjadi uang. Uang yang terkumpul adalah “bonus” dari langit atas niat tulus kita menjaga kebersihan.

Dari sesuatu yang dianggap tidak bernilai, lahir manfaat dan keberkahan. Inilah dakwah transformatif: mengubah masalah menjadi peluang, mengubah kebiasaan buruk menjadi budaya peduli.

Momentum Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) hendaknya menjadi komitmen kita. Mari jadikan kebersihan sebagai karakter, bukan sekadar program, karena menjaga lingkungan bukan hanya urusan dunia, tetapi juga bagian dari ibadah. Ketika kita mengajak warga memilah sampah, sesungguhnya kita sedang berdakwah.

“Satu botol plastik yang tidak terbuang di selokan adalah satu kebaikan yang menyelamatkan ekosistem kita.”

Semoga dari RT yang kecil ini lahir gerakan besar untuk Indonesia yang lebih bersih, sehat, dan penuh keberkahan. Mari kita berproses bersama menjadi warga yang istimewa. (Sutikno/Fikri)

Tinggalkan komentar