Surabaya, syiarmu.com – Para siswa dan guru dari SMP Muhammadiyah 11 Surabaya (Muven) menghadiri pengajian akbar dalam rangka menyambut Tahun Baru Hijriyah. Kegiatan keagamaan yang berlangsung khidmat ini digelar di Masjid At-Taqwa, Jalan Alun-alun Bangunsari Selatan Nomor 7-9, Kota Surabaya, pada Senin (15/6/2026).
Acara ini menghadirkan penceramah kondang, Ustadz Marzuki Imron, yang mengupas tuntas esensi sejarah hijrah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam (SAW) serta kemuliaan bulan Muharram.
Dalam ceramahnya, Ustadz Marzuki Imron memaparkan kembali fase krusial kepindahan Rasulullah SAW dari Mekah ke Madinah. Beliau menekankan bahwa meskipun Islam pertama kali turun di Mekah, pusat perkembangan dan kejayaan Islam justru bernaung di Madinah.

Perjalanan hijrah tersebut dipenuhi dengan ketegangan dan perjuangan fisik. Peristiwa ini bermula pada 12 Dzulhijjah saat terjadi Baiat Aqobah, yang ternyata ikut diintai oleh mata-mata dari kaum kafir Quraisy. Kaum Quraisy saat itu dikenal sebagai masyarakat jahiliah yang cerdas, memiliki kemampuan menghafal yang cepat, dan pintar.
Sehari setelahnya, tepat pada 13 Dzulhijjah, kaum Quraisy melakukan aksi penyisiran (sweeping) besar-besaran terhadap para pendatang dari Madinah. Akibatnya, Rasulullah SAW mengalami teror psikologis dan fisik yang intens selama dua bulan penuh.

Puncak konspirasi terjadi pada 26 Safar, ketika kaum Quraisy mengadakan rapat. Abu Jahal mengusulkan untuk membunuh Rasulullah SAW. Namun, rencana keji tersebut gagal total setelah Rasulullah SAW mendapatkan informasi dan petunjuk dari Malaikat Jibril terkait rencana pembunuhan tersebut.
“Pada tanggal 27 Safar, Rasulullah beserta para sahabat akhirnya diam-diam berangkat meninggalkan Mekah. Dalam perjalanan, beliau sempat singgah di Quba untuk mendirikan masjid pertama dalam sejarah Islam, sebelum akhirnya tiba dengan selamat di Madinah pada 12 Rabiul Awal,” jelas Ustadz Naruto, sapaan akrabnya.

Tidak hanya memaparkan sejarah penanggalan, Ustadz Marzuki juga menyentuh hati para jemaah dengan kisah-kisah mengharukan mengenai kedekatan Rasulullah SAW dengan para sahabatnya.
Salah satunya adalah kisah menjelang wafatnya Rasulullah SAW. Kala itu, Nabi meminta siapa saja di antara sahabat yang merasa pernah disakiti oleh beliau untuk membalasnya. Seorang sahabat bernama Ukasyah maju dan mengaku pernah tidak sengaja terkena cambuk Rasulullah saat berada di medan perang.
Meski sempat dicegah dan ditentang oleh sahabat-sahabat lainnya, Ukasyah tetap kukuh pada tuntutannya. Namun, ketika giliran cambuk berada di tangannya dan tubuh Rasulullah sudah bersiap, Ukasyah justru langsung menjatuhkan cambuknya dan memeluk erat tubuh suci Nabi SAW.
Kisah loyalitas lain datang dari sahabat Anas bin Malik. Saat mencuci baju Rasulullah SAW, Anas memeras baju tersebut demi mengumpulkan sisa keringat Nabi yang menempel, lalu mengusapkannya ke bajunya sendiri sebagai bentuk tabarruk (mencari berkah) dan bukti cinta yang mendalam.
Lebih lanjut, Ustadz Marzuki menjelaskan latar belakang penetapan kalender Hijriyah. Atas usulan dari sahabat Usman bin Affan, permulaan tahun baru Islam disepakati dimulai pada bulan Muharram.
Ada beberapa alasan mendasar di balik keputusan tersebut:
Pertama, Bulan Kesabaran. Pada bulan Muharram, Rasulullah SAW menunjukkan kesabaran yang luar biasa dalam menghadapi teror kaum Quraisy. Kedua, Momen Istimewa. Bulan ini menandai waktu kembalinya para jemaah haji ke tanah air mereka.
Selain itu, bulan Muharram juga menyimpan sejarah keselamatan para nabi terdahulu dari berbagai mukjizat besar, seperti bertemunya Nabi Adam dengan Hawa, selamatnya Nabi Ibrahim dari kobaran api, hingga selamatnya Nabi Musa dari kejaran Firaun.
Di penghujung ceramah, Ustadz Marzuki Imron mengajak seluruh keluarga besar SMP Muhammadiyah 11 Surabaya untuk mengisi bulan Muharram dengan berbagai amalan bernilai pahala besar. Jemaah diimbau untuk melaksanakan puasa sunah Asyura pada 10 Muharram serta meningkatkan kepedulian sosial karena Muharram dikenal juga sebagai bulannya anak yatim.
“Ciri utama dari seseorang yang mencintai sesuatu adalah ia akan sering menyebutnya. Jika kita benar-benar mengaku cinta kepada Nabi Muhammad SAW, maka buktikan dengan sering menyebut nama beliau melalui bacaan selawat yang istikamah setiap hari,” pungkas Ustadz Marzuki di hadapan para siswa dan guru yang hadir. (Fikri)