Surabaya, syiarmu.com – Nasib dan arah masa depan suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas kepemimpinannya. Kualitas sosok pemimpin memegang porsi hingga 80 persen dalam menentukan keberhasilan suatu negara.
Namun, di tengah maraknya disrupsi dan dinamika politik modern, hadirnya pemimpin yang ideal kerap tersandera oleh sistem yang lebih mengutamakan popularitas serta modal finansial ketimbang integritas dan kapasitas.
Pesan mendalam tersebut disampaikan oleh pembicara Ir. Misbahul Huda, MBA dalam kajian bertema “Kepemimpinan yang Tersandera”. Acara yang diselenggarakan oleh Majelis Tabligh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Krembangan ini berlangsung di Mushola Al-Hadi, Jl. Lasem Barat No. 43, Surabaya, pada Ahad (2/8/2026) mulai pukul 06.30 WIB.

Di awal paparannya, Ir. Misbahul Huda mengimbau umat Islam untuk terus bersemangat mengaji dan menuntut ilmu di tengah derasnya arus disrupsi dan fenomena sosial yang negatif. Menuntut ilmu menjadi sarana penting agar masyarakat tidak terbawa arus kemerosotan moral.
Hal ini sejalan dengan landasan hadis Rasulullah SAW yang mendasari pentingnya majelis ilmu: “Barangsiapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga” (HR. Muslim No. 2699). Ia juga mengingatkan bahwa sebagian besar isi Al-Qur’an memuat kisah-kisah perjuangan dan ujian berat para nabi yang patut dijadikan ikhtibar (pelajaran).
Menurut Misbahul Huda, Indonesia merupakan negara yang luas dan kaya, tetapi masih mengalami berbagai keterbatasan karena minimnya kehadiran pemimpin yang memegang teguh empat sifat utama nabi, yakni Fathonah (cerdas), Amanah (terpercaya), Shiddiq (jujur), dan Tabligh (transparan/menyampaikan kebenaran).

Berbeda dengan negara-negara maju yang terbiasa cerdas memilih pemimpin berintegritas, kondisi di dalam negeri masih dibayangi oleh kriteria demokrasi yang mengedepankan “isi tas” dan popularitas semata. Akibatnya, calon pemimpin berkualitas yang sesuai dengan kaidah Al-Qur’an kerap tenggelam suaranya.
Dampak dari krisis kepemimpinan ini tidak main-main. Di tingkat sosial, lahir masyarakat yang saling curiga, baik di dalam negeri maupun di mata internasional. Kebijakan negara pun cenderung tidak konsisten akibat fenomena “ganti presiden, ganti program”.
Situasi ini menciptakan ketimpangan, orang pintar hanya mampu memberikan saran, sementara aturan dan hukum rentan diperjualbelikan oleh pemilik modal.

Merespons kondisi tersebut, Ir. Misbahul Huda memaparkan rumus keberhasilan seorang pemimpin. Kualitas kepemimpinan dipengaruhi oleh 10 persen faktor keturunan, 10 persen kondisi krisis, dan 80 persen karena memang dipersiapkan.
Oleh karena itu, penyiapan calon pemimpin harus dimulai secara terencana dari dalam lingkungan keluarga. “Apabila keluarga tidak mempersiapkannya dari sekarang, maka pihak lain atau lingkungan luar yang akan membentuk mereka,” tegasnya.
Ia melandasi argumennya pada firman Allah SWT dalam Surah An-Nisa ayat 9 yang artinya:
“Hendaklah merasa takut orang-orang yang seandainya (mati) meninggalkan setelah mereka, keturunan yang lemah (yang) mereka khawatir terhadapnya. Maka, bertakwalah kepada Allah dan berbicaralah dengan tutur kata yang benar (dalam hal menjaga hak-hak keturunannya)”.

Ia menambahkan bahwa makhluk paling berbahaya adalah manusia yang tidak sadar bahwa dirinya adalah seorang pemimpin yang kelak dimintai pertanggungjawaban.
Sementara itu, orang yang paling tidak berguna adalah mereka yang sadar sebagai hamba Allah tetapi sama sekali tidak peduli pada urusan kepemimpinan.
Menghadapi tantangan bangsa saat ini, terdapat beberapa langkah strategis yang perlu dilakukan oleh masyarakat:
- Menyadari bahwa setiap individu adalah pemimpin yang kelak dimintai pertanggungjawaban.
- Menggunakan hak pilih secara bijak pada Pemilu 2029 mendatang untuk memilih pemimpin yang tepat, berintegritas, serta berkarakter Islami.
- Kembali mengamalkan nilai-nilai luhur Pancasila dan Undang-Undang Dasar secara murni dan konsekuen.
Mengakhiri ceramahnya, Ir. Misbahul Huda menggarisbawahi perbedaan mendasar antara “berdoa” dan sekadar “membaca doa”. Berdoa adalah memohon kepada Allah SWT yang diiringi dengan tindakan dan ikhtiar nyata.
Adapun membaca doa adalah berdoa tanpa diiringi upaya dan tindakan nyata yang hampir pasti tidak akan didengar oleh Allah SWT. Kesadaran untuk mencetak dan memilih pemimpin berintegritas harus diwujudkan dalam langkah konkret demi masa depan bangsa. (Fikri)