Syiarmu.com
Oleh :Henny Qurota’Ayun
Setiap daerah tentu memiliki tokoh yang nama, perjuangannya, rekam jejak pengorbanannya yang terukir jelas pada ingatan semua orang yang ada di sana. Ketika saya menorehkan kata pada kertas ini, sama sekali bukan tentang seorang sejarawan yang mendokumentasikan biografi seorang tokoh yang ada di dekatnya.
Saya hanya ingin mengungkapkan apa yang saya alami puluhan tahun lalu di tempat saya dilahirkan dan dibesarkan; PCM Krembangan yang saat ini saya tidak lagi berada di sana.
Kala itu saya kelas 6 SD sekitar tahun 1989-1990, sekolah kami di SD Muhammadiyah 11 Surabaya yang saat ini dikenal dengan nama SD Muhlas. Wali Kelas kami memiliki kebijakan untuk membentuk kelompok-kelompok belajar yang kegiatannya siang hingga sore hari selepas kami pulang sekolah. Aktivitas belajar itu diadakan sebagai bekal persiapan menghadapi Ebtanas, ujian akhir SD ketika akan memasuki jenjang SMP pada waktu itu. Saya memiliki anggota 5 orang teman termasuk saya sebagai ketua.
Saya cukup berbangga karena teman-teman banyak yang berebut masuk sebagai kelompok saya. “Enak ya sekelompok dengan Henny, dekat dengan yang peringkat satu,” celoteh teman-teman pada waktu itu.

Salah satu anggota tim saya seorang teman bernama Reza. Jika Bapak/Ibu Pembaca pernah mendengar nama Reza Pahlevi, Direksi CV Wardhana, beliaulah teman yang saya maksud. Reza adalah sosok yang periang dan acap kali usil, sehingga suasana belajar bersama yang seharusnya serius sering berubah jadi candaan dan mainan yang tak kunjung usai.
Bagi saya, dia adalah trouble maker yang membuat suasana menjadi tidak nyaman. Sore itu ketika akan mengayuh sepedanya di depan rumah, dengan tegas saya katakan,” Rez, mulai besok kamu ikut kelompok lain ya, jangan bergabung bersama kami,”.
Aku tidak memedulikan lagi bagaimana ekspresi wajahnya kala itu dan bagaimana ejekan teman-teman sekelompok terhadapnya.
Keesokan harinya tiba-tiba Reza hadir di tempat kami belajar seperti biasanya. Seorang teman menyongsong kehadirannya dengan ketus, “Kamu kenapa datang ke sini lagi, kamu kan sudah dipecat sama ketuanya!”

Reza menerjang masuk menghampiriku dan memberikan sebuah lipatan kertas buku tulis dalam genggamannya.,”Hen, aku minta maaf, ya” ucapnya lirih sembari pergi begitu saja. Kertas itu dilipat kecil hanya berukuran 4×8 cm kala itu. Dengan hati-hati aku membukanya.
“Nak Henny, Ibu Minta maaf. Ibu minta tolong Reza dimaafkan ya, Nak. Ibu minta tolong Reza diterima kembali belajar bersama di kelompoknya nak Henny,” Masrufah..
Kala itu saya hanya fokus pada bagaimana kami menghadapi kedatangan Reza lagi dan betapa manjanya dia hingga apapun yang dia inginkan bisa ia dapatkan. Namun, kini ketika saya menjadi seorang Ibu dan ketika tahu siapa Ibu Hj. Tin Masrufah, Ibunda teman kami Reza Pahlevi yang merupakan istri Tokoh Muhammadiyah Krembangan kala itu; Bapak haji Noor Faqih, benar-benar membuatku kagum dan berlinang air mata.
Beliau berdua adalah pengusaha yang terpandang di daerah kami waktu itu. Terkenal akan kedermawanannya, perjuangannya dan semua dedikasinya pada Muhammadiyah. Banyak orang mengenalnya, menghormatinya, dan mungkin segan kepadanya. Namun dalam surat itu tidak ada nada memerintah, tidak ada ancaman, dan tidak ada kebanggaan atas jabatan yang dimilikinya.

Yang ada hanyalah permohonan sederhana agar anaknya diberi kesempatan kembali untuk belajar bersama kami. Saat ini saya memandang isi surat itu dengan sudut pandang yang berbeda; Betapa besar hati seorang perempuan yang bersedia mengesampingkan gengsi, kedudukan, dan kehormatannya di mata masyarakat demi kepentingan anaknya.
Beliau tidak sedang merendahkan dirinya. Justru pada saat itulah saya melihat kemuliaannya. Sebab tidak semua orang yang memiliki jabatan mampu bersikap rendah hati apalagi hanya di hadapan seorang anak SD.
Meski kini surat itu sudah hilang, namun pelajaran yang beliau tinggalkan tetap lekat dalam lubuk hati dan ingatan saya; Ibu Hj. Tin Masrufah adalah figur pemimpin sejati, seorang pemimpin dengan kebesaran hati di atas jabatan ataupun status sosial ekonomi yang dimiliki beliau tetaplah rendah hati.
Terima kasih, Ibu. Dari lipatan kertas coretan pena Ibu, kami belajar tentang arti kebesaran hati. (Henny Qurota’Ayun/Fikri)
