Surabaya, syiarmu.com – Ada pemandangan yang sarat makna di Lapangan Alun-Alun Bangunsari, Krembangan, Surabaya, Jumat (23/10/2026). Di tempat yang dahulu dikenal sebagai kawasan prostitusi tersebut, umat Islam berkumpul untuk melaksanakan Shalat Istisqa, memohon turunnya hujan sekaligus mengetuk pintu rahmat Allah SWT, yang dilaksanakan jam 07.30 WIB
Kegiatan yang diinisiasi PCM Krembangan Kota Surabaya, majelis tabligh sebagai pelaksananya, bukan sekadar ikhtiar spiritual menghadapi kondisi kekeringan. Lebih dari itu, Shalat Istisqa di Bangunsari menghadirkan pesan kuat tentang perubahan, regenerasi kader, dan kepedulian sosial yang melampaui batas wilayah.

Mengusung tema “Mengetuk Pintu Langit, Harapan Turunnya Rahmat”, kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran bahwa manusia membutuhkan pertolongan Allah SWT sekaligus harus terus berikhtiar menjaga lingkungan dan membantu sesama.
Pemilihan Lapangan Alun-Alun Bangunsari memiliki makna tersendiri. Kawasan yang dahulu dikenal dengan aktivitas prostitusi itu kini menjadi salah satu ruang bagi kegiatan keagamaan dan dakwah masyarakat.
Bangunsari seolah menyampaikan pesan bahwa masa lalu bukanlah akhir dari sebuah perjalanan. Melalui ikhtiar, pembinaan, dan dakwah yang berkelanjutan, sebuah kawasan dapat menghadirkan harapan baru bagi masyarakatnya.

Hal menarik lainnya terlihat dari sosok yang mendapat amanah memimpin Shalat Istisqa. Imam dalam kegiatan ini adalah Rayhan Mahardika, Ketua Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah (PCPM) Krembangan saat ini.
Sementara itu, khutbah disampaikan oleh Ahmad Mujaddid RA, S.H., M.Pd., yang merupakan Ketua PCPM Krembangan pada periode sebelumnya.
Inilah salah satu kekuatan Muhammadiyah: membangun kader yang tidak hanya aktif dalam organisasi, tetapi juga siap mengambil peran di tengah masyarakat.
Di tengah ikhtiar mengetuk pintu langit agar hujan segera turun, jamaah Shalat Istisqa PCM Krembangan Kota Surabaya juga menunjukkan kepedulian terhadap saudara-saudara sebangsa yang sedang menghadapi musibah.

Dari kegiatan Shalat Istisqa yang dilaksanakan pada Jumat (23/10/2026) pagi di Lapangan Alun-Alun Bangunsari, terkumpul infak sebesar Rp5.136.000. Seluruh dana infak tersebut disalurkan melalui LAZISMU Surabaya untuk membantu penanganan bencana nasional.
Keunggulan sebuah Pimpinan Cabang Muhammadiyah tidak semata-mata diukur dari banyaknya amal usaha atau besarnya kegiatan. Lebih dari itu, keunggulan tercermin dalam kemampuan menggerakkan dakwah, membangun kader, memperkuat sinergi organisasi, dan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.
Pertama, dakwah yang membumi. Muhammadiyah hadir di ruang publik dan ikut merawat perubahan sosial, termasuk di kawasan yang memiliki sejarah panjang dan kompleks.
Kedua, kaderisasi yang berkelanjutan. Pemuda Muhammadiyah diberi kepercayaan untuk mengambil peran strategis. Imam dan khatib yang berasal dari kepemimpinan PCPM saat ini dan periode sebelumnya menjadi gambaran estafet perjuangan yang terus berjalan.

Ketiga, dakwah yang berdampak sosial. Infak Rp5.136.000 yang disalurkan melalui LAZISMU Surabaya untuk bencana nasional menunjukkan bahwa kegiatan keagamaan dapat berjalan beriringan dengan gerakan kemanusiaan.
Dari Lapangan Alun-Alun Bangunsari, muncul pesan bahwa perubahan membutuhkan keberanian untuk memulai, dakwah membutuhkan ketekunan, dan persyarikatan membutuhkan kader-kader yang siap melanjutkan perjuangan.
Bangunsari bukan sekadar lokasi Shalat Istisqa. Ia menjadi panggung harapan, tempat generasi muda mengambil peran, dan ruang untuk membuktikan bahwa dakwah Muhammadiyah harus menghadirkan perubahan sekaligus kepedulian kemanusiaan.
Muhammadiyah Krembangan: menghidupkan dakwah, menumbuhkan kader, dan menebar manfaat untuk umat dan bangsa. (Sutikno/Fikri)
