Surabaya, syiarmu.com – Masjid Al Islam Surabaya kembali dipadati jemaah yang hendak menunaikan ibadah salat tarawih pada malam-malam pertengahan Ramadan 1447 H. Pada Selasa (3/3/2026), suasana khidmat tersebut diisi dengan tausiyah mendalam oleh Ustaz Rayhan Mahardika.
Dalam ceramahnya, beliau memberikan peringatan keras mengenai golongan manusia yang merugi meskipun berada di dalam bulan yang penuh ampunan. Ustaz Rayhan menekankan betapa celakanya seseorang yang diberikan kesempatan oleh Allah SWT untuk berjumpa dengan bulan Ramadan, namun hingga bulan suci itu berlalu, dosa-dosanya tidak diampuni.
“Hal ini menjadi paradoks yang menyedihkan, mengingat Ramadan adalah momentum pintu ampunan dibuka seluas-luasnya dan rahmat Allah tercurah tanpa batas bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh,” ujarnya.

Lebih lanjut, Ustaz Rayhan menjelaskan bahwa fenomena ini sering kali terjadi karena kekeliruan dalam memahami hakikat puasa. Seseorang mungkin sangat rajin berpuasa di siang hari, melakukan qiyamullail (salat malam), bahkan gemar bersedekah.
Namun, semua amal tersebut seolah menguap begitu saja karena ia gagal menjaga lisan dan anggota tubuhnya dari berbagai bentuk kemaksiatan yang merusak pahala ibadah. Kondisi tragis ini pernah diingatkan oleh Rasulullah SAW melalui hadis yang populer.
Ustaz Rayhan mengutip sabda Nabi Muhammad SAW: “Kammin shoo-imin laisalahu min shiyaamihi illal juu’u wal ‘athosyu”. Yang artinya: “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga saja.” (HR. Ahmad).

Beliau menyoroti bahwa mulut yang tidak terjaga dari gibah, fitnah, dan perkataan kotor, serta hati yang masih menyimpan kedengkian, adalah penghalang utama diterimanya amal.
“Ibadah puasa seharusnya menjadi perisai yang membentengi diri dari dosa, bukan sekadar memindahkan jam makan sementara perilaku maksiat tetap berjalan seperti hari-hari biasanya,” tegasnya.
Sebagai solusi, Ustaz Rayhan mengajak seluruh jemaah untuk melakukan muhasabah diri dan keluarga secara mendalam. Beliau mengimbau agar setiap kepala keluarga memastikan seluruh anggota rumah tangga tidak hanya berpuasa secara fisik, tetapi juga batin.
“Mari kita periksa kembali niat dan cara kita beribadah agar benar-benar meraih ampunan dan rida dari Allah SWT,” ajak beliau dengan penuh ketulusan.
Sebagai penutup, beliau menekankan pentingnya membangun kedekatan dengan Al-Qur’an sebagai sarana pembersihan jiwa. Dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai imam dalam keluarga, setiap anggota akan terbimbing untuk menjaga akhlak dan lisannya.
Melalui interaksi yang intens dengan kalamullah, diharapkan Ramadan tahun 2026 ini menjadi titik balik bagi jemaah Masjid Al Islam untuk menjadi pribadi yang lebih bertakwa dan bersih dari noda dosa. (Wahid/Fikri)
