Oleh: H. Sutikno, S.Sos., M.H.
Tokoh masyarakat/agama
Dalam pekan ini, beberapa kabar kematian kita terima, baik dari seorang tokoh maupun teman dan sahabat kita sejak kecil.
Kematian bukan sekadar angka dalam berita duka, melainkan lonceng pengingat bagi kita yang masih diberi napas untuk tidak lagi menunda sapa.
Kematian adalah guru yang paling diam, namun paling jujur. Ia tidak memandang usia, jabatan, atau seberapa penting kita di dalam masyarakat.
Allah mengingatkan kita dalam Firman-Nya:
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu.” (QS. Ali ‘Imran: 185).

Ayat ini menegaskan bahwa kematian bukanlah kemungkinan, melainkan kepastian. Tidak ada yang mampu menghindarinya.
Kepergian para tokoh dan sahabat adalah cermin bagi kita. Mereka telah menuntaskan bagian hidupnya dan meninggalkan jejak amal yang akan terus dikenang.
Pertanyaannya, “Jejak apa yang akan kita tinggalkan?”. Apakah kita hanya menjadi penonton, atau turut menjadi pelaku kebaikan yang memberi manfaat bagi sesama?

Sering kali kita merasa waktu masih panjang sehingga kita menunda tobat, menunda kebaikan, dan merasa masih ada kesempatan. Padahal, kematian tidak memberikan tanda. Ia datang tanpa janji dan tanpa aba-aba. Hari ini kita mengantar orang lain ke liang lahat, esok bisa jadi kitalah yang diantarkan.
Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah berkata, “Tidaklah aku melihat sesuatu yang lebih pasti daripada kematian, namun manusia justru paling lalai darinya.”
Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang lalai. Mari jadikan setiap kabar kematian sebagai pengingat bahwa hidup ini sementara dan akhirat adalah tujuan utama. Karena pada akhirnya, kita semua akan menyusul. (Sutikno/Fikri)
