Surabaya, syiarmu.com – Pada Ahad (10/5/2026) Majelis Tabligh PCM Krembangan mengadakan Pengajian Keluarga Sakinah. Agenda bulanan ini bertempat di depan TK ABA 04, Dupak Bangunsari 63, Surabaya. Mubalig kajian itu adalah Afifun Nidlom SAg MPd MH. Tema yang dibahas yakni “Memperkokoh Pilar Peradaban Islam Berkemajuan.”
Afifun memulai ceramahnya dengan mengajak jemaah mengingat perjuangan tokoh para pendahulu. Lalu jemaah juga diajak berdoa bersama untuk tokoh para pendahulu.
Memasuki tema, Afifun mengatakan bahwa Islam adalah agama peradaban. Umat Islam diberi amanah agar mampu menjadi rahmat bagi alam dan sesama. Kesalihan tidak digunakan sendiri, melainkan untuk membangun bangsa menjadi lebih maju.

“Butuh proses yang dilakukan secara konsisten untuk membangun sebuah bangsa agar maju dalam semua bidang. Proses itu untuk mewujudkan Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur,” ujar Wakil Sekretaris Majelis Tabligh PWM Jawa Timur itu.
Ada empat pilar peradaban yang harus dibangun untuk kemajuan sebuah bangsa. Empat pilar itu adalah membangun tradisi etik, memiliki sumber daya ekonomi yang kuat, mempunyai nilai politik yang mapan, serta adaptif terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi.

Perwujudan tradisi etik adalah terbentuknya keluarga sakinah. Keluarga merupakan aspek yang sangat penting dalam membangun tradisi etik. Ironisnya, data jumlah perceraian di negeri ini masih tergolong banyak dan semakin bertambah setiap ada pemilu.
Salah satu ciri tradisi etik yang baik adalah ketika anak mendapat nikmat, ia akan mengingat orang tuanya. Keluarga harus menjadi suri tauladan.
Allah berfirman dalam surah At-Thur (52) ayat ke-21 yang artinya “Orang-orang yang beriman dan anak cucunya mengikuti mereka dalam keimanan, Kami akan mengumpulkan anak cucunya itu dengan mereka (di dalam surga). Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan) mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya.”

Selain membangun tradisi etik, umat Islam harus memakmurkan masjid. Tidak boleh ada yang meremehkan orang yang memakmurkan masjid. Bangunan masjid boleh lebih rendah, tetapi cita-cita harus lebih tinggi.
Allah berfirman dalam surah At-Taubah (9) ayat ke-18 yang artinya “Sesungguhnya yang (pantas) memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, mendirikan salat, menunaikan zakat, serta tidak takut (kepada siapa pun) selain Allah. Mereka itulah yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.”
Ironisnya adalah umat Islam di Indonesia berjumlah sekitar 87%, tetapi hanya sedikit yang menjalankan shalat. Dilansir dari laman resmi Suaramuhammadiyah, Moslem Report pernah merilis data penelitian Avara Research pada tahun 2019 tentang shalat.
Hasilnya, ada 2% umat Islam yang selalu mengerjakan shalat lima waktu berjamaah, 7,7% yang mengerjakan shalat lima waktu sering berjamaah, 29,2% menunaikan shalat lima waktu terkadang berjamaah, 33,8% sering melaksanakan shalat lima waktu, 26,8% kadang melakukan shalat lima waktu, dan hanya 0,4% tidak pernah menjalankan shalat.
“Berdasarkan data itu saja, bagaimana masjid bisa makmur. Mari jadikan masjid sebagai pusat peradaban. Jadikan pula zakat sebagai instrumen ekonomi Islam,” ucapnya.
Jelang akhir kajian, Afifun menegaskan pentingnya ekosistem ekonomi jemaah. Ada fenomena money politic dalam setiap pemilu. Tentu salah satu faktornya adalah kondisi masyarakat masih miskin sehingga menjadi sasaran praktik tersebut.
“Ekosistem ekonomi jemaah itu sangat penting. Setiap muslim wajib sadar terhadap hal tersebut. Bila ekosistem itu baik, maka semakin besar pula jumlah umat Islam. Harus ada ikhtiar untuk mewujudkan hal tersebut,” pungkasnya. (Fikri)
