PRA Perak Barat Sukses Selenggarakan Pengajian Memperingati Milad ke-109 ‘Aisyiyah

Puluhan jama’ah Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA) Perak Barat beserta tamu undangan terlihat telah memadati rumah Bapak Widodo, Ketua PRM Perak Barat, dalam rangka mengikuti Pengajian Memperingati Milad ke-109 ‘Aisyiyah.

Kegiatan pada Kamis (28/5/2026) ini merupakan bentuk rasa syukur atas berkembangnya PRA Perak Barat sebagai ranting baru di wilayah PCA Krembangan.

Pengajian tepat dimulai pukul 09.00 diawali dengan pembukaan oleh ibu Erlinda selaku MC, dilanjutkan dengan tilawah dan sambutan-sambutan.

Hj. Umu Khasanah dalam sambutannya menyampaikan rasa terima kasih atas semangat ibu-ibu jama’ah sehingga bisa terbentuk PRA Perak Barat.

“Saya ingin pengajian ini tetap dilaksanakan secara istiqomah. Juga saya ingin lahir di PRA ini ada Tim Perawatan Jenazah dan Ta’ziyah ‘Aisyiyah (TPJTA) yang setiap kali dibutuhkan warga siap untuk datang,” tambahnya.

Hadir pula dalam kesempatan itu anggota DPRD Surabaya Dokter Zuhro. Dalam sambutannya, beliau menghimbau agar kegiatan PRA Perak Barat semakin semarak.

Selanjutnya Ustadz Anfaul Ulum, Lc. M.Ag selaku pembicara menyampaikan tausiyahnya. Dalam tausiyah tersebut beliau mengingatkan pesan Rasulullah.

Pertama, tebarkan salam. Yang dimaksud menebar salam di sini tidak hanya mengucapkan assalaamu’alaikum dengan lisan namun perlu diikuti dengan senyum tulus sehingga memunculkan rasa damai bagi yang mendengarnya.

Sabda Rasulullah, “Kalau kalian diucapkan salam maka balaslah dengan yang serupa atau lebih baik yaitu wa’alaikum Salaam warohmatullahi wabarokaatuh,” ujarnya.

Kedua, saling memberi. “Kalian tidak akan masuk surga kecuali kalian mengucapkan syahadat dan iman kalian tidak sempurna kecuali kalian saling mencintai dan tidak akan kalian saling mencintai kecuali dengan saling memberi.”

Anfaul menekankan bahwa kita berlaku baik itu tidak dalam rangka mengharap dibalas baik melainkan semata mata ingin meraih ridha Allah SWT.

Ketiga, saling menyambung tali silaturrahim. Keempat, shalat malam saat orang terlelap tidur.
Tujuan tahajjud adalah melatih untuk ikhlas melakukan ibadah hanya karena Allah, tidak untuk dilihat siapapun.

Dalam QS. An Nisa: 10 Allah berfirman bahwa kita adalah umat terbaik yang disiapkan Allah untuk menyuruh manusia berbuat baik. Namun, menyuruh manusia berbuat baik itu harus dengan cara yang baik. Ada qoidah dalam berdakwah yang artinya mengenal dulu yang mau diajak baik baru menyuruh.

Ciri umat terbaik adalah orang yang mengajak dalam kebaikan dengan cara yang baik. Itu artinya tidak boleh sendiri, harus berjamaah.

Mencegah kemungkaran yaitu membebaskan orang dari belenggu kesulitan, kemiskinan, kebodohan, ketidakberdayaan dan kemerosotan moral.

Zaid ibnu Sya’nah (seorang Yahudi) yang hidup di masa Rasulullah dan para sahabat pernah mengatakan, “Aku melihat semua tanda-tanda kenabian pada Muhammad kecuali 2 hal yang ingin aku buktikan, semakin dijahati semakin dibalas baik dan kesabarannya mengalahkan kemarahannya. Ternyata terbukti sehingga Zaid Ibnu Sya’nah akhirnya bersyahadat dan syahid pada perang Tabuk.

Kita harus meneladani akhlak Rasulullah dalam mengelola marah. Iman menjadikan kita bisa mengelola rasa sehingga tidak marah membabi buta bahkan bisa mengubahnya menjadi doa.

Dalam Al Qur’an ada sebuah surat yang sering disebut para jumhur ulama sebagai Surat Akhlak yaitu QS. Al Hujurat. Salah satu ciri akhlak yang diajarkan dalam surat tersebut adalah tidak gampang berprasangka, menyebut dengan sebutan jelek, mencari-cari kesalahan, dan melakukan ghibah.

Tausiyah ditutup dengan doa dan ramah tamah. (Robica/Fikri)

Tinggalkan komentar