Menjaga Lisan dan Tindakan sebagai Cerminan Kematangan Spiritual

Oleh: H. Sutikno, S.Sos., M.H.
Ketua Takmir Masjid Al Azhar

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar ungkapan, “Kalau salah, tinggal meminta maaf.” Memang, meminta maaf adalah akhlak yang mulia dan sangat dianjurkan dalam Islam. Namun, akan lebih mulia apabila seseorang mampu berpikir matang sebelum berbicara atau bertindak.

Menjaga lisan dan tindakan sebelum berbuat adalah cerminan tertinggi dari kecerdasan dan spiritualitas. Di era saat ini, fenomena “asal bicara, lalu meminta maaf” semakin marak. Banyak orang menganggap kata “maaf” sekadar bentuk formalitas untuk meloloskan diri dari dampak kecerobohan. Padahal, kehati-hatian lebih mulia daripada sekadar mengobral kata “maaf”.

Pentingnya membiasakan diri berpikir sebelum bertindak agar terhindar dari penyesalan sejalan dengan prinsip perkembangan berpikir (cognitive development) dan kematangan emosional (emotional maturity). Seseorang yang matang akan mengedepankan kontrol diri (self-control) dan kesadaran diri (self-awareness), sehingga mampu memperhitungkan dampak sosial yang ada.

Prinsip berpikir matang sebelum bertindak ini sudah diingatkan oleh Rasulullah saw.:

“Janganlah engkau mengucapkan suatu kalimat yang membuatmu harus meminta maaf karenanya (di kemudian hari).” (H.R. Ibnu Majah No. 4171 dan Ahmad)

Hadis ini menegaskan bahwa pribadi yang cerdas adalah mereka yang mengedepankan atau mengutamakan pencegahan, sehingga seseorang akan berpikir terlebih dahulu agar membawa kebaikan dan tidak menimbulkan penyesalan.

Selain itu, Rasulullah saw. bersabda agar kita menjaga lisan:

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” (H.R. Bukhari No. 6018 dan Muslim No. 47)

Meskipun demikian, manusia tidak luput dari kesalahan. Jika orang cerdas mengutamakan kehati-hatian agar tidak berbuat salah, orang baik memilih kerendahan hati (tawadu) untuk mengakui kesalahan dan tidak malu untuk meminta maaf. Rasulullah saw. bersabda:

“Setiap anak Adam pasti pernah berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah mereka yang bertobat.” (H.R. Tirmidzi No. 2499)

Marilah kita membiasakan budaya berpikir sebelum bertindak, menimbang sebelum berbicara, dan mempertimbangkan akibat sebelum mengambil keputusan. Jadikan kata “maaf” sebagai jalan terakhir ketika benar-benar terjadi kekeliruan, bukan sebagai alasan untuk mengulangi kesalahan yang sama.

Orang bijak tidak mengandalkan kata “maaf” untuk memperbaiki kesalahan, tetapi mengandalkan kebijaksanaan agar kesalahan itu tidak perlu terjadi. (Sutikno/Fikri)

Tinggalkan komentar