Surabaya, syiarmu.com — Pada Sabtu (5/9/2026) suasana di Perguruan Muhammadiyah Tandes Surabaya tampak berbeda. Ribuan anak datang dengan satu semangat: berani tampil, berani berkompetisi, dan tentu saja ingin memberikan yang terbaik.
Di tengah riuhnya Festival Kompetisi Anak Islami (KAMI) XIV 2026, ada tujuh nama yang kemudian membuat kabar bahagia berembus ke SD Muhammadiyah 10 Surabaya (Mumtas).
Bukan satu piala. Bukan dua.
Tujuh prestasi sekaligus!

Ajang tingkat Provinsi Jawa Timur yang digelar Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Surabaya, Sabtu (5/9/2026), tersebut diikuti sekitar 1.300 peserta dari berbagai jenjang. Mulai TK, SD/MI, SMP/MTs hingga SMA/SMK.
Festival KAMI menjadi ruang bertemunya talenta-talenta muda sekaligus menjadi ajang mempererat silaturahmi antarpelajar dan lembaga pendidikan di Jawa Timur.
Anak-anak Mumtas datang bukan sekadar untuk meramaikan.
Mereka pulang membawa prestasi.

Di cabang Qiroah, dua siswa Mumtas tampil gemilang. Achmad Althaf Kamil dan Hefzi Syauqi sama-sama berhasil menyabet Juara 1.
Dari lantunan ayat Al-Qur’an, giliran suara azan yang berkumandang penuh percaya diri. Ahmed Keenan Zeleby Wally juara 1 dan Muhammad Rizqullah meraih Juara 2 Adzan.
Sementara itu, kreativitas tangan juga berbicara. Azarine Syareefa Labibah sukses menjadi Juara 1 Kaligrafi, disusul Amiira Dzakiyya Saudah sebagai Juara 2 Kaligrafi.

Satu lagi datang dari cabang Mewarnai. Briyan Iqbal Pranaja berhasil meraih Juara 2.
Tujuh anak. Tiga cabang. Tujuh prestasi.
Kabar kemenangan itu kemudian dibagikan di grup guru dan karyawan Mumtas. Seketika, suasana berubah menjadi penuh syukur dan kebanggaan. Senyum para guru seolah menjadi “bonus” dari perjuangan anak-anak yang selama ini berlatih.
Wali Kelas 4, Maulida Agustin Sasmi, S.Pd., bersama guru pendamping Amilatur Rosidah, S.Pd., mengaku bersyukur sekaligus bangga. Bagi mereka, kemenangan tersebut bukan hanya tentang membawa pulang piala, tetapi tentang proses belajar anak untuk berani tampil dan memberikan kemampuan terbaik.
Kepala SD Mumtas, M. Khoirul Anam, M.Pd., pun menyampaikan rasa syukur dan bangga atas capaian tersebut.
“Prestasi ini tentu membanggakan. Tetapi yang lebih penting, anak-anak belajar tentang keberanian, kerja keras, disiplin, dan tanggung jawab. Semoga menjadi motivasi untuk terus berprestasi,” pesannya.
Festival KAMI akhirnya bukan hanya meninggalkan jejak tujuh piala bagi Mumtas. Ia meninggalkan tujuh cerita perjuangan.
Anak-anak yang berani mencoba. Guru yang tak lelah mendampingi. Orang tua yang terus memberikan dukungan. Tentang sebuah sekolah yang percaya bahwa generasi Qurani harus tumbuh menjadi generasi yang berakhlak, percaya diri, kreatif, dan berprestasi.
Hari itu, tujuh bintang Mumtas memang bersinar. Namun sejatinya, yang sedang dinyalakan adalah masa depan mereka. (Afuw Elkhoir/Fikri)
