Surabaya, syiarmu.com — SMP Muhammadiyah 11 Surabaya menggelar kegiatan pembinaan bagi seluruh guru dan karyawan pada Sabtu (5/9/2026). Acara yang berlangsung pukul 13.00 hingga 15.00 WIB ini diselenggarakan di lantai 2 SMP Muhammadiyah 11 Surabaya dengan menghadirkan penceramah utama Ir. Sudarusman, M.Pd.
Pria kelahiran Surabaya, 15 Februari 1960 tersebut merupakan tokoh berpengalaman di dunia pendidikan. Saat ini, Ir. Sudarusman, M.Pd. menjabat sebagai Direktur MBA Spartans SMAMX (Muhammadiyah Boarding Area Sport Art and Sains SMA Muhammadiyah 10 Surabaya), Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Simokerto, serta merupakan mantan Kepala SMA Muhammadiyah 10 Surabaya.

Dalam kesempatan tersebut, beliau membawakan materi bertema “Gerakan Sekolah Berbudaya Kebersamaan: Membangun Sinergi Pendidikan Berlandaskan Nilai Luhur dan Sistemik”. Di hadapan para peserta, beliau menyoroti dinamika kondisi sekolah yang fluktuatif, sehingga menuntut peran guru untuk turut menjadi agen promosi atau marketing sekolah.
“Menjadi pendidik merupakan panggilan jiwa yang harus dijalankan secara sungguh-sungguh dengan pola berpikir intuitif berbasis pengalaman,” ujarnya.
Ir. Sudarusman menekankan bahwa sekolah akan tumbuh dan berkembang pesat jika sinergi dan pelayanan di internal berjalan dengan baik. Untuk mendorong kemajuan, sekolah harus mau membuka data perolehan murid secara maksimal sebagai acuan kerja, serta melakukan analisis sebaran Sekolah Dasar (SD) di kawasan sekitar.


“Apabila perolehan murid mengalami penurunan, hal itu menandakan sekolah belum mampu menjaga kualitas produk dengan baik, meskipun strategi promosi sudah berjalan maksimal,” tegasnya.
Filosofi pendidikan Muhammadiyah berlandaskan pada integrasi iman dan ilmu. Pelaksanaan pendidikan di lingkungan Muhammadiyah wajib memegang teguh tiga prinsip dasar, yaitu ikhlas, profesional, dan inklusif. Selain itu, pendidik harus menjiwai lima etos pendidikan Muhammadiyah
Pertama, etos gerakan, yakni memiliki semangat yang tidak pernah padam. Kedua, etos ilmu, yaitu memiliki dasar berpijak yang jelas dalam setiap tindakan. Ketiga, etos amal, senantiasa berbagi manfaat. Keempat, etos perubahan, berani bertransformasi ke arah yang lebih baik. Kelima, etos kemajuan, memadukan kekuatan iman dan pengetahuan.

Dalam proses pembelajaran, guru diminta untuk selalu mencari sisi terang siswa, bukan berfokus pada sisi gelapnya, serta menempatkan siswa sebagai subjek pendidikan, bukan sekadar objek. Pendidik dituntut paham akan target akhir mendidik, bersikap visioner, dan mampu mencetak generasi secara holistik yang cerdas secara akal, sosial, maupun spiritual. Seluruh proses mengajar pun wajib terintegrasi dengan visi dan misi sekolah.
Guna membangun ekosistem pendidikan yang kokoh, landasan berpikir yang diterapkan harus memandang sekolah sebagai suatu ekosistem, memahami prinsip kausalitas, dan melahirkan solusi yang komprehensif. Adapun strategi promosi sekolah harus bertumpu pada tiga hal yakni fasilitas pendidikan, aktivitas pendidikan, dan manajemen pendidikan.
Pengelola sekolah dan para guru juga harus berani menganalisis dan mengambil keputusan berbasis data, menerapkan manajemen risiko dengan mengukur dampak positif serta negatif dari setiap kebijakan, serta memiliki keberanian yang diimbangi akuntabilitas.
Pendidikan di sekolah wajib menerapkan cara-cara humanis melalui pendekatan kasih sayang, menghargai keunikan tiap siswa, serta membangun komunikasi yang empatis dan apresiatif.
Terkait pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM), Ir. Sudarusman menegaskan bahwa ukuran senioritas harus dinilai dari karya yang dihasilkan, bukan sekadar berdasarkan masa kerja. Melalui penguatan visi dan misi di internal sekolah, pendidik wajib mentransfer empat hal utama kepada para siswa yaitu pengetahuan, pengalaman, keterampilan, dan kecakapan hidup. (Fikri)
