Surabaya, syiarmu.com — Gelak tawa dan tepuk tangan anak-anak terdengar riuh di KB Aisyiyah 05 dan TK Aisyiyah Bustanul Athfal 04 Surabaya, Kamis (3/9/2026). Bukan sekadar hiburan, keceriaan itu menjadi pintu masuk untuk mengenalkan akhlak Rasulullah SAW melalui kisah, humor, boneka, nyanyian, dan gerakan.
Dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 12 Rabiul Awwal 1448 Hijriyah, KB Aisyiyah 05 dan TK Aisyiyah Bustanul Athfal 04 menggelar rangkaian Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) dengan tema “Meneladani Akhlak Rasulullah, Mewujudkan Generasi Beriman, Berilmu, dan Berakhlak Mulia.”
Peringatan Maulid Nabi tahun ini berlangsung selama dua hari, Kamis (3/9/2026) hingga Jumat (4/9/2026). Pada hari pertama, kegiatan dikemas dalam bentuk mendongeng interaktif yang diikuti seluruh peserta didik, mulai dari KB Aisyiyah 05, TK A, hingga TK B.

Ratusan anak memenuhi area gabungan Ruang Kelas Balok, Ruang Persiapan, dan Ruang Sains yang disulap menjadi panggung penceritaan. Sejak kegiatan dimulai, anak-anak tampak antusias. Mereka duduk rapi di atas karpet dengan pandangan tertuju ke panggung.
Suasana semakin meriah ketika pendongeng, Pak Eko, hadir bersama boneka interaktifnya, Toby. Sorak-sorai dan tepuk tangan langsung terdengar. Tingkah lucu Toby serta dialog interaktif dengan Pak Eko sukses mengundang gelak tawa anak-anak.
Sesi mendongeng mengangkat tema “Safari Kisah Rasulullah: Rasulullah Idolaku, Uswatun Hasanahku.” Melalui karakter Toby yang jenaka dan mampu menirukan berbagai suara, Pak Eko membawa anak-anak menyelami kisah Rasulullah SAW dengan cara yang dekat dengan dunia mereka.
Kisah pertama yang disampaikan adalah tentang kelahiran Nabi Muhammad SAW dan peristiwa Tahun Gajah. Anak-anak diajak membayangkan pasukan bergajah pimpinan Raja Abrahah yang hendak menghancurkan Ka’bah serta pertolongan Allah SWT melalui burung-burung Ababil.

Kisah sejarah tersebut dikemas secara sederhana agar mudah dipahami anak usia dini. Dari cerita itu, anak-anak diajak mengenal keistimewaan kelahiran Nabi Muhammad SAW sekaligus belajar tentang kebesaran dan pertolongan Allah SWT.
Pesan berikutnya berkaitan dengan sifat Rasulullah SAW yang suka berbagi. Melalui adegan humoris antara Pak Eko dan Toby, anak-anak diajak memahami bahwa berbagi makanan, mainan, maupun senyuman kepada teman merupakan salah satu bentuk sederhana dalam meneladani Rasulullah SAW.
Pesan tersebut kemudian dikaitkan dengan semangat Gerakan Al-Ma’un, yang menekankan kepedulian dan perhatian terhadap sesama. Nilai tersebut menjadi bagian penting dalam pendidikan karakter di lingkungan KB-TK Aisyiyah.
Sejak usia dini, anak-anak dikenalkan bahwa kebaikan tidak harus dimulai dari hal besar. Berbagi makanan, membantu teman, menyayangi sesama, hingga memberikan senyuman merupakan bentuk kepedulian yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
Tak berhenti pada kisah Rasulullah, Pak Eko juga mengenalkan tiga kata kunci kepada anak-anak, yakni “Pikir, Dzikir, Amal.”

Tiga kata tersebut disampaikan melalui gerakan tubuh dan nyanyian sederhana sehingga anak-anak dapat mengikuti dengan mudah. Afirmasi itu diharapkan menjadi pengingat bagi anak sebelum melakukan suatu perbuatan.
Pesannya sederhana: berpikir sebelum bertindak, mengingat Allah dalam setiap langkah, kemudian mewujudkannya dalam amal kebaikan.
Sepanjang kegiatan, anak-anak terlihat aktif merespons. Mereka tertawa melihat tingkah Toby, menjawab pertanyaan Pak Eko, mengikuti gerakan, hingga bersama-sama mengucapkan “Pikir, Dzikir, Amal”.
Bagi sekolah, keceriaan tersebut bukan sekadar bagian dari suasana peringatan Maulid Nabi. Di balik tawa dan permainan, terdapat proses penanaman nilai agama dan karakter yang disesuaikan dengan tahap perkembangan anak usia dini.
Metode storytelling dipilih karena sesuai dengan karakter belajar anak usia dini. Cerita yang disampaikan dengan ekspresi, humor, boneka, gerakan, dan nyanyian dapat membuat pesan keagamaan terasa lebih dekat dan menyenangkan.

Melalui dongeng, anak dapat mengembangkan imajinasi dan kreativitas, memperkaya kosakata, melatih fokus serta konsentrasi, sekaligus belajar memahami perasaan dan perilaku melalui tokoh-tokoh dalam cerita.
Dongeng religi juga memberikan pengalaman spiritual yang menyenangkan. Anak tidak merasa sedang digurui, tetapi diajak mengenal nilai-nilai agama melalui pengalaman yang membahagiakan dan mudah diingat.
Kepala TK Aisyiyah Bustanul Athfal 04 Surabaya Lilik Tarwijah, S.Pd.
menegaskan, peringatan Maulid Nabi menjadi momentum penting untuk menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW sejak dini.
“Peringatan Maulid Nabi Muhammad 1448 Hijriyah ini merupakan momentum emas untuk mengenalkan dan menumbuhkan rasa cinta kepada Rasulullah SAW sejak dini. Kita ingin anak-anak belajar mencintai Nabi dengan cara meneladani akhlak mulia beliau, khususnya sikap suka berbagi dan menyayangi sesama,” tuturnya.
Ia juga menjelaskan bahwa metode mendongeng merupakan pendekatan belajar yang sesuai dengan dunia anak.
“Melalui media cerita dan humor yang mendidik, anak-anak dapat mengenal kepribadian Nabi Muhammad SAW melalui pengalaman belajar yang membahagiakan, berkesan, dan membekas dalam ingatan mereka hingga dewasa kelak,” lanjutnya. (Winda/Fikri)
