Kiai Mahsun Ulas Profil Guru Kekinian dalam Pengajian At-Tanwir

Surabaya, syiarmu.com – Pada ahad (9/11/2025) Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Simokerto Kota Surabaya mengadakan Kajian At Tanwir. Agenda tersebut diadakan di Masjid Aya Sofia, Perguruan Muhammadiyah Kapasan, Surabaya. Mubaligh pada Kajian itu adalah Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiah Kota Surabaya Dr. Mahsun Djayadi, M. Al. Tema yang disampaikan adalah Perbedaan Mendidik dan Mengajar.

Ada beberapa Strategi Pemberdayaan AUM bidang Pendidikan. Pertama, pembaruan kurikulum mengembangkan kurikulum yang seimbang antara pendidikan agama dan IPTEKS serta mengintegrasikan teknologi dan penelitian sesuai tuntunan Islam.

“Kurikulum zaman sekarang tentu Kurikulum Cinta. Kalau murid tidak paham itu jangan dibiarkan, tetapi dijelaskan, misal ada anak merokok guru cuma kaget lalu dibiarkan, tapi saya yakin tidak semua guru seperti itu,” ujarnya.

Kedua, peningkatan kualitas pembelajaran melakukan inovasi dalam metode mengajar dan menciptakan suasana belajar yang kondusif.

“Menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi. Metode itu lebih penting dari materi. Guru lebih penting dari metode dan jiwa guru lebih penting dari guru itu sendiri,” imbuhnya.

Ketiga, akses pendidikan mendirikan sekolah di daerah terpencil dan sulit dijangkau. Keempat, pengembangan SDM, melakukan pelatihan, dan pengelolaan profesionalisme bagi para guru dan teknologi pendidikan agar memiliki kompetensi yang relevan.

Kelima, pengelolaan yang profesional dan yang terakhir penguatan fungsi AUM.

Profil guru di era saat ini harus “BONEC”. B yang berarti Briliant, cerdas, cemerlang, kreatif dan inovatif. O bermakna optimisme, memiliki, sikap mental yang positif dan percaya diri. N berarti nice, baik hati, menyenangkan, dan menarik. E bermakna etic, berintegritas, dan berakhlaqul karimah. C merupakan cak-cek, sat-set, cepat, tepat, dan tanpa ragu.

“Guru yang cerdas, memberi tugas untuk murid, mengumpulkan melalui video. Murid itu menjelaskan dari soal-soal tersebut, sehingga selain bisa menjawab dia juga bisa mengomunikasikannya,” tambahnya.

Jelang akhir kajian, hadirin dijelaskan bahwa bermuhammadiyah dengan gembira itu awalnya dipaksakan, lalu tumbuh cinta, jika sudah cinta maka apapun akan diberikan. (Jurnalis Mudisa/Fikri)

Tinggalkan komentar