Surabaya, syiarmu.com – Digitalisasi adalah kunci. Hal itulah yang ditegaskan beberapa kali dalam Kajian Sakinah PCM Krembangan pada Ahad (4/1/2026). Pada zaman modern ini dakwah dan kegiatan ekonomi dapat dilakukan menggunakan teknologi. Tentu hasilnya dapat lebih baik daripada menggunakan metode konvensional.
Pembahasan tersebut disampaikan di musala Al Bayan, jalan Sedayu 7/34 Surabaya, oleh drh Zainul Muslimin. Tema yang disampaikan adalah “Bahagia, Sejahtera, Tenang, dan Tentram”. Bendahara PWM Jawa Timur itu mengawali tausiahnya dengan penjelasan makna sejahtera.
“Sejahtera itu adalah kondisi ketika manusia mampu memenuhi kebutuhan dasar. Manusia terdiri atas jasmani dan rohani. Kedua hal itu harus terpenuhi secara baik,” ujarnya.

Akan tetapi, terkadang pikiran atau alam bawah sadar manusia bertentangan dengan kesejahteraan. Misalnya, muncul pikiran bahwa misal hidup kaya, hisabnya akan sulit. Bisa juga merasa cukup dengan kondisi saat ini sehingga tidak berkembang. Padahal manusia adalah makhluk terbaik yang tentu saja mudah berkembang.
Dalam kajian bulanan itu hadirin juga diimbau agar membelanjakan harta ke usaha yang dimiliki saudaranya. Dalam hal melakukan apapun termasuk memperoleh kesejahteraan, seorang muslim harus menjalani cara yang baik dan benar.
Allah berfirman dalam surah Al Isra ayat ke-36 yang artinya “Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kauketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.”

Umat yang lemah justru berbahaya. Banyak amalan yang tidak dapat dilakukan. Bahkan umat yang lemah diancam oleh Allah, kecuali bila melakukan ikhtiar untuk menjadi kuat maka akan diampuni. Ancaman itu secara tersirat ada di dalam surah An Nisa ayat ke-97.
Allah berfirman yang artinya Sesungguhnya orang-orang yang dicabut nyawanya oleh malaikat dalam keadaan menzalimi dirinya, mereka (malaikat) bertanya, “Bagaimana kamu ini?” Mereka menjawab, “Kami adalah orang-orang yang tertindas di bumi (Makkah).” Mereka (malaikat) bertanya, “Bukankah bumi Allah itu luas sehingga kamu dapat berhijrah di sana?” Maka, tempat mereka itu (neraka) Jahanam dan itu seburuk-buruk tempat kembali.
Seorang muslim yang baik hendaknya mengikuti jalan hidup Rasulullah. Ada banyak hal yang bisa dicontoh. Dua di antaranya adalah berdagang dan memperkuat tali silaturahmi.

Rasulullah bersabda yang artinya “Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.”
Tentunya teman yang diakrabi haruslah teman yang baik. Rasulullah bersabda yang artinya “Seseorang itu tergantung agama teman dekatnya. Oleh karena itu, hendaklah kalian memperhatikan siapa yang dijadikan sebagai teman dekat.”
Jelang akhir kajian, ustaz Zainul menyampaikan sejumlah nasihat. Pertama, kalau seseorang ingin maju, jangan membuat-buat alasan. Kedua, dakwah dan dagang lakukan secara daring. Ketiga, hadirkan kemaslahatan dan program yang tepat di lingkungan sekitar.
Rasulullah bersabda yang artinya “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya”.
Nasihat keempat, langkah hidup yang dilakukan harus linier dengan doa yang dipanjatkan. Kelima, hendaknya seorang muslim mampu menjaga ucapannya. (Fikri)
