Shalat dan Integritas: Transformasi Ritual Menjadi Peduli Sosial dan Amanah

Syiarmu.com

Oleh: H. Sutikno, S.Sos., M.H.
Ketua Takmir Masjid Al Azhar
Jl. Dupak Bandarejo no. 25 Surabaya

Peristiwa Isra Mi’raj bukan sekadar perjalanan kosmik yang menembus batas logika manusia, tetapi sebagai titik balik fundamental dalam sejarah peradaban Islam. Puncak perjalanan agung Rasulullah saw. ke Sidratulmuntaha dalam menerima perintah salat secara langsung dari Allah Swt. tanpa perantara merupakan penegasan bahwa salat bukan sekadar ritual, melainkan fondasi pembentukan kepribadian dan integritas seorang Muslim.

Salat adalah instrumen utama dalam membentuk karakter yang bersih dan melatih seseorang merasa selalu diawasi oleh Allah Swt., serta ikrar kesetiaan seorang hamba kepada Sang Pencipta. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Surah Taha ayat 14:

اِنَّنِيْٓ اَنَا اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدْنِيْۙ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِيْ .

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku. Maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat-Ku.”

Esensi salat adalah menghadirkan kesadaran akan adanya Allah. Kesadaran inilah yang melahirkan integritas, yakni kesesuaian antara keyakinan, ucapan, dan perbuatan. Di sinilah salat adalah rem bagi kita yang akan melakukan perbuatan ketidakjujuran, sehingga salat adalah latihan amanah. Kalau kita bisa menjaga amanah waktu salat, maka seharusnya bisa juga menjaga amanah jabatan dan tanggung jawab sosial.

Esensi salat dimulai dari takbiratulihram (memutus hubungan dunia demi Allah) dan diakhiri dengan salam ke kanan dan ke kiri. Salam ini adalah simbol bahwa seorang Muslim harus membawa kedamaian bagi lingkungan di sekitarnya. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Surah Al-Ankabut ayat 45:

“…… Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar……”

Ayat ini menunjukkan hubungan erat antara ibadah dan akhlak. Cerminan kualitas salat dapat ditunjukkan dalam perilaku sehari-hari untuk meningkatkan rasa empati dan kepedulian terhadap orang lain.

Meneladani Isra Mikraj di masa kini berarti membawa “oleh-oleh” dari langit menuju ke bumi. Hal ini mengajarkan bahwa salat adalah jembatan antara langit dan bumi yang menghubungkan manusia dengan Tuhannya, sekaligus menguatkan tanggung jawab kepada sesama. Salat harus bertransformasi menjadi energi positif dalam kehidupan sehari-hari. Jadikanlah salat sebagai mesin penggerak integritas.

Semoga kita tidak hanya menjadi hamba saleh secara ritual, tetapi juga menjadi manusia yang bermanfaat dan terpercaya bagi lingkungan sekitarnya. (Sutikno/Fikri)

Tinggalkan komentar