syiarmu.com
Oleh: H. Sutikno, S.Sos., M.H.
Tokoh agama/tokoh masyarakat Surabaya
Bulan Ramadan adalah bulan yang penuh keberkahan, ampunan, dan peningkatan kualitas keimanan.
Dahulu suasana Ramadan ditandai dengan suara beduk dan jadwal imsakiah berupa kertas yang tertempel di sudut ruangan yang mudah terlihat. Kini suasana berubah. Di era digital ini, cara umat Islam menjalani Ramadan mengalami banyak perubahan; teknologi hadir dalam genggaman tangan.
Pertanyaannya, apakah teknologi dapat mendekatkan diri kita kepada Allah atau justru melalaikannya?
A. Digitalisasi Ibadah/Ibadah dalam Genggaman
Menyediakan waktu salat/jadwal imsakiah yang bisa diakses dengan mudah melalui aplikasi, sehingga meminimalisasi kesalahan waktu beribadah dan memudahkan musafir untuk tetap taat.
Aplikasi Al-Qur’an digital tersedia dalam berbagai versi dan terjemahan.
Kajian Ramadan dapat diikuti secara langsung dari para ulama di berbagai penjuru dunia sambil menyiapkan makan sahur/berbuka serta di tengah kemacetan lalu lintas.

Dahulu kita mencari amil zakat secara fisik, sekarang melalui QRIS, sehingga penyalurannya menjadi lebih cepat, transparan, dan menjangkau daerah pelosok yang membutuhkannya.
B. Pandangan Islam terhadap Teknologi dalam Ibadah
Dalam kaidah fikih disebutkan:
“Al-ashlu fil asy-ya’ al-ibahah hatta yadulla ad-dalilu ‘ala tahrimiha.”
Hukum asal segala sesuatu adalah boleh, sampai ada dalil yang melarangnya. Penggunaan aplikasi pengingat salat/zakat digital termasuk dalam kategori sarana.

Allah SWT juga berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 185 mengenai kemudahan dalam berpuasa:
“…Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu…”
Teknologi dalam konteks ini berperan sebagai penyedia kemudahan.
C. Tantangan Ramadan di Dunia Digital
Selain menjadi ladang pahala, dunia digital bisa menjadi sumber lalai. Tanpa disadari, waktu berharga di bulan Ramadan habis untuk scrolling, menonton konten yang tidak bermanfaat, perdebatan yang tidak perlu, serta kita harus hati-hati dengan mengunggah momen ibadah demi konten yang dapat mengancam keikhlasan.

D. Dakwah Digital sebagai Peluang Emas
Era digital juga membuka peluang dakwah yang sangat luas. Satu potongan ayat, video tausiah singkat, atau apa pun, bisa menjangkau ribuan bahkan jutaan orang; ini adalah bentuk amal jariyah modern.
Allah berfirman:
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar.”
(QS. Ali Imran: 104)
Digitalisasi adalah keberkahan apabila kita bijak menggunakannya dan menuntut kita bukan hanya menjadi konsumen konten, tetapi juga menjadi produsen kebaikan.
Jadikan digitalisasi sebagai alat mendekatkan diri, memperluas pahala, dan memperkuat iman, bukan menjadi penghalang untuk kebaikan. (Sutikno/Fikri)
