Surabaya, syiarmu.com – Pada Sabtu (7/3/2026) diadakan Kajian Ramadhan pimpinan dan guru beserta karyawan Amal Usaha Muhammadiyah Krembangan. Kegiatan itu dilaksanakan di aula AR Fakhruddin, SD Muhammadiyah 11 Surabaya. Hadir sebagai pemateri yakni Dr Hidayatullah MSi.
Rektor Universitas Muhammadiyah Sidoarjo itu mengawali dengan pemaparan bahwa AUM adalah instrumen dakwah dan pelayanan umat. Sehingga, kinerjanya tidak boleh setengah-setengah agar mencapai sasaran dakwah.
Salah satu cara mencapai sasaran dakwah adalah menciptakan budaya kerja yang baik, unggul, dan profesional. Tentunya budaya itu bisa terbentuk apabila Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimiliki juga unggul. “Pimpinan AUM harus selalu berusaha meningkatkan dan mengembangkan SDM yang dipimpin supaya bisa unggul,” ujarnya.
Setiap AUM dalam hal ini sekolah tentu berkeinginan bisa sejajar atau lebih unggul dari sekolah yang sudah maju. Untuk mencapai hal tersebut diperlukan visi sekolah dari hasil diskusi panjang, tidak meniru sekolah lain.
Sekolah harus bisa memberi manfaat yakni mencerdaskan bangsa. Kalau masyarakat puas, tentu sekolah itu akan direkomendasikan untuk dipilih lagi oleh kerabat atau tetangganya. Untuk mewujudkannya, perlu karakter profesional dari seluruh SDM.
Karakter pertama yakni berilmu dan ahli dalam bidang tertentu. Allah berfirman dalam surah Al Isra ayat ke-36 yang artinya “Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kauketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.”
Rasulullah bersabda yang artinya Apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.
Imam Syafii juga pernah berkata yang artinya “Barangsiapa yang menginginkan (kebahagiaan) dunia, maka hendaknya dengan ilmu. Dan barangsiapa yang menginginkan (kebahagiaan) akhirat, maka hendaknya dengan ilmu”

Karakter kedua yakni memiliki kode etik. Allah berfirman dalam surah At Taubah ayat ke-105 yang artinya “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Bekerjalah! Maka, Allah, rasul-Nya, dan orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu. Kamu akan dikembalikan kepada (Dzat) yang mengetahui yang gaib dan yang nyata. Lalu, Dia akan memberitakan kepada kamu apa yang selama ini kamu kerjakan.”
Segala hal yang dikerjakan, pasti dilihat oleh Allah. Maka, orang yang bekerja hendaknya bersungguh-sungguh. Kalau ada kesadaran diri, hasilnya akan yang terbaik.
Karakter ketiga adalah memiliki etos kerja tinggi. Ada empat dalil yang menyuruh orang yang bekerja harus memiliki etos kerja tinggi. Berikut dalilnya.
“Baginya (manusia) ada (malaikat-malaikat) yang menyertainya secara bergiliran dari depan dan belakangnya yang menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka. Apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, tidak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (Ar Ra’du: 11)
“Apabila engkau telah selesai (dengan suatu kebajikan), teruslah bekerja keras (untuk kebajikan yang lain)” (Al Insyirah: 7)
“Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang beruntung, (dan) barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin dialah tergolong orang yang merugi dan bahkan, barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin dialah tergolong orang yang celaka.” (HR Al Hakim)

“Bagi setiap umat ada kiblat yang dia menghadap ke arahnya. Maka, berlomba-lombalah kamu dalam berbagai kebajikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu”. (Al Baqarah: 148)
Saat berlomba dalam kebaikan, ada empat tahap yang harus dilakukan agar meraih kemenangan. Tahap itu yakni melakukan kebaikan, dilakukan secara istikamah, dilakukan secara terbaik, dan menjadi yang pertama melakukannya.
Karakter keempat adalah membangun teamwork. Dalilnya ada pada surah Ash Shaf ayat ke-4 dan Ali Imron ayat ke-103.
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam satu barisan, seakan-akan mereka suatu bangunan yang tersusun kukuh” (Ash Shaf: 4)
“Berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, janganlah bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara. (Ingatlah pula ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.” (Ali Imran: 103)
Pada akhir pemaparan, Hidayat menyampaikan prinsip 5K yakni kompak, kokoh, kontribusi, konsisten, dan komitmen. Hadirin juga diajak menjadi SDM profesional berkarakter kompeten, disiplin, kerja efektif produktif, kolaboratif, dan adaptif. (Fikri)
