Yogyakarta, syiarmu.com – Ketika organisasi berbicara tentang keberlanjutan, perhatian sering kali tertuju pada laporan ESG, kepatuhan regulasi, teknologi, dan manajemen risiko. Namun, Dr. Indra Nur Fauzi, M.Si., Ketua Majelis Ekonomi, Bisnis, dan Pariwisata Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, menawarkan sudut pandang berbeda: keberlanjutan pada akhirnya ditentukan oleh budaya yang berhasil diwariskan.
Gagasan itu disampaikan Indra saat tampil sebagai pembicara dalam GRC Summit 2026 di Hotel Tentrem Yogyakarta, 20–21 Agustus 2026. Forum bertema “Sustainability by Design: A Journey Through Intelligent GRC” tersebut mempertemukan tokoh nasional dan praktisi untuk membahas masa depan Governance, Risk, and Compliance (GRC), keberlanjutan, serta kecerdasan buatan (AI).
Di hadapan peserta, Indra menjadikan perjalanan Muhammadiyah sejak berdiri pada 1912 sebagai contoh bagaimana sebuah organisasi dapat menjaga kesinambungan nilai di tengah perubahan zaman.
“Kalau kita berbicara tentang sustainability, jangan hanya bertanya bagaimana organisasi bisa bertahan. Kita juga harus bertanya, nilai apa yang ingin kita pertahankan?” ujar Indra.

Menurutnya, Muhammadiyah membangun keberlanjutan bukan dengan mempertahankan bentuk organisasi secara kaku, melainkan dengan menanamkan nilai melalui pendidikan dan amal usaha.
“Sejak berdiri tahun 1912, Muhammadiyah membangun budaya melalui pendidikan. Nilai itu kemudian diterjemahkan dalam berbagai institusi dan diwariskan dari generasi ke generasi,” jelasnya.
Indra memaparkan bahwa ekosistem Muhammadiyah kini mencakup ribuan lembaga pendidikan, perguruan tinggi, hingga rumah sakit. Data Persyarikatan yang dipublikasikan pada 2026 mencatat lebih dari 5.500 sekolah, 164 perguruan tinggi, dan 128 rumah sakit dalam jaringan Muhammadiyah dan ’Aisyiyah.
Namun, bagi Indra, angka tersebut bukanlah inti keberhasilan.
“Jumlah itu penting, tetapi bukan yang paling penting. Yang lebih penting adalah bagaimana lembaga-lembaga tersebut tetap memiliki ruh dan nilai yang sama,” katanya.
Governance yang Hidup
Dari pengalaman tersebut, Indra kemudian menghubungkannya dengan konsep governance. Menurutnya, tata kelola yang kuat tidak cukup dibangun melalui dokumen, struktur, dan prosedur.
“Governance bukan sekadar aturan yang tertulis. Governance harus menjadi budaya dalam setiap proses pengambilan keputusan,” tegasnya.
Ia menilai organisasi yang sehat adalah organisasi yang mampu menerjemahkan nilai menjadi perilaku dan sistem.

“Ketika nilai sudah menjadi budaya, orang yang berganti tidak akan membuat organisasi kehilangan arah. Pemimpin bisa berganti, tetapi sistem dan nilai tetap berjalan,” ungkapnya.
Perspektif tersebut mendapat ruang penting dalam GRC Summit 2026 yang menghadirkan sejumlah tokoh nasional. Di antaranya Erry Riyana Hardjapamekas, Wakil Ketua KPK periode 2003–2007; Febrian Alphyanto Ruddyard, M.A., Wakil Menteri PPN/Wakil Kepala Bappenas; Lee Dittmar, Co-Founder and President Infinity Data AI; serta pakar GRC Indonesia Antonius Alijoyo.
Forum tersebut juga menyoroti bagaimana governance, risk, compliance, sustainability, dan AI semakin tidak dapat dipisahkan. Teknologi menawarkan kemampuan baru dalam membaca risiko dan mendukung pengambilan keputusan, tetapi tetap membutuhkan manusia sebagai penjaga nilai dan akuntabilitas.
“AI bisa membantu kita membaca data dan risiko. Tetapi AI tidak boleh mengambil alih nilai dan tanggung jawab manusia,” kata Indra.
Dari Kepatuhan Menuju Nilai
Indra juga mendorong agar GRC tidak berhenti pada kepatuhan administratif. Menurutnya, tata kelola harus memberikan dampak terhadap kualitas keputusan dan penciptaan nilai.
“GRC harus bergerak dari sekadar compliance menuju value creation. Tata kelola dan manajemen risiko harus ikut mendorong organisasi menciptakan nilai,” ujarnya.
Hal serupa berlaku pada manajemen risiko. Risiko, katanya, bukan sesuatu yang selalu dapat dihapus, tetapi harus dikenali dan dikelola.
“Risiko tidak selalu bisa dihilangkan, tetapi dapat dikelola. Organisasi harus mampu mengenali risiko sebelum berubah menjadi masalah,” tuturnya.

Dalam konteks keberlanjutan, Indra menegaskan bahwa organisasi harus mampu menjaga hubungan antara nilai, keputusan, tindakan, dan dampak.
“Sustainability bukan hanya laporan. Sustainability harus terlihat dalam bagaimana organisasi mengambil keputusan, menjalankan program, dan memberikan manfaat kepada stakeholder,” jelasnya.
Kehadiran Indra di GRC Summit 2026 menjadi menarik karena pengalaman Muhammadiyah ditempatkan sebagai studi tentang keberlanjutan organisasi. Kader Muhammadiyah dari Jawa Timur tersebut membawa pengalaman Persyarikatan ke forum yang mempertemukan pemimpin, regulator, akademisi, dan praktisi GRC.
Sebagai Ketua Majelis Ekonomi, Bisnis, dan Pariwisata PWM Jawa Timur, Indra menilai pengalaman Muhammadiyah menunjukkan bahwa kekuatan organisasi bukan hanya pada besarnya institusi, tetapi pada kemampuan menjaga nilai ketika organisasi semakin besar.
“Semakin besar organisasi, semakin penting budaya. Karena kalau tidak ada budaya yang kuat, struktur sebesar apa pun akan mudah kehilangan arah,” katanya.
Pada akhirnya, pesan Indra di GRC Summit 2026 sederhana: organisasi tidak cukup hanya tumbuh besar, tetapi harus mampu tumbuh tanpa kehilangan nilai.
“Yang ingin kita pertahankan bukan hanya organisasi secara fisik, tetapi nilai yang membuat organisasi itu dipercaya dan bermanfaat,” pungkasnya.
Dari forum GRC Summit 2026 di Yogyakarta, pengalaman Muhammadiyah kembali mendapatkan ruang untuk dibaca dalam perspektif yang lebih luas: pendidikan membangun manusia, manusia membangun budaya, dan budaya menjadi fondasi keberlanjutan organisasi. (Muha/Fikri)
