Jeruk Bagus Belum Tentu Laku, KKN MAs 93 Bekali Petani Tumpangrejo Cara Menjual Produk dengan Cerita

Malang, syiarmu.com — Hasil panen yang baik tidak selalu berakhir dengan nilai jual yang tinggi. Kualitas buah perlu diikuti dengan cara pengemasan, identitas produk, hingga strategi pemasaran yang mampu membuat konsumen tertarik.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN MAs 93 ingin mengenalkan alternatif agar potensi jeruk Tumpangrejo tidak hanya dikenal sebagai hasil pertanian, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi produk yang layak dibawa sebagai oleh-oleh khas Tumpangrejo.

Kegiatan tak berhenti pada pembahasan mengenai cara menjaga produk setelah dipanen. Mahasiswa juga memahami bahwa kemasan, logo, branding, hingga cara memasarkan produk memiliki peran dalam membangun daya tarik dan nilai jual di mata konsumen.

Salah satu yang diberikan adalah teknik pengemasan. Mahasiswa memperkenalkan prinsip dasar packaging yang tidak hanya berfungsi sebagai pembungkus, tetapi juga menjadi bagian dari identitas produk. Kemasan juga perlu disesuaikan dengan karakter produk dan sasaran konsumen.

Dengan kemasan yang lebih menarik dan informatif, jeruk tidak hanya dipandang sebagai hasil panen untuk dijual dalam jumlah besar, tetapi memiliki peluang untuk dikemas secara lebih layak sebagai buah tangan yang membawa identitas Tumpangrejo dan Desa Ngenep.

Dengan pengetahuan tersebut diharapkan dapat membuka pandangan masyarakat bahwa pengembangan nilai ekonomi jeruk tidak selalu harus dimulai dari produksi dalam skala besar. Perubahan dapat dimulai dari cara produk diperlakukan setelah panen, bagaimana identitasnya dibangun, hingga bagaimana produk tersebut diperkenalkan kepada konsumen. Dengan begitu, potensi jeruk lokal memiliki peluang untuk memberikan nilai tambah sekaligus menjadi salah satu produk yang dapat dikenalkan kepada masyarakat luar sebagai oleh-oleh dari Tumpangrejo.

“Harapan kami, lewat edukasi kemasan, branding, dan pemasaran ini, petani di Tumpangrejo tidak lagi sekadar bergantung dan menjual hasil panennya ke tengkulak dengan harga murah. Dengan sentuhan inovasi dan pengemasan yang menarik, nilai jual buah jeruk lokal bisa melonjak tinggi dan berpotensi besar menjadi oleh-oleh khas Dusun Tumpangrejo yang dibanggakan. Kalau identitas produknya sudah kuat dan pemasarannya makin luas, bukan hal yang mustahil produk jeruk dari desa ini nantinya bisa bersaing, bahkan menembus pasar eksporimpor.” Ainy, Mahasiswa Kelompok 93, Pemateri Packaging

Selain itu masyarakat juga mendapatkan pemahaman mengenai pembuatan logo dan identitas merek. Logo tidak dibuat sekadar agar produk terlihat bagus, tetapi perlu memiliki keterkaitan dengan karakter dan cerita di balik produk tersebut. Hal ini diharapkan dapat membantu masyarakat membangun produk yang lebih mudah dikenali.

Identitas yang konsisten juga dapat digunakan ketika produk mulai dipasarkan melalui berbagai saluran. Materi kemudian diarahkan pada pemahaman mengenai branding. Mahasiswa menjelaskan bahwa branding bukan hanya persoalan memilih warna, membuat logo, atau mempercantik kemasan.

Bagi produk lokal, cerita mengenai asal produk juga dapat menjadi kekuatan. Desa, proses produksi, bahan yang digunakan, hingga keterlibatan masyarakat dapat menjadi bagian dari cerita yang membuat produk memiliki pembeda dibandingkan produk lain. Edukasi juga menyentuh aspek pemasaran. Peserta diperkenalkan pada pemanfaatan media digital dan marketplace sebagai sarana memperluas jangkauan konsumen.

Mahasiswa KKN MAs 93 memberikan gambaran mengenai cara menampilkan produk melalui foto yang menarik, membuat informasi produk yang jelas, menentukan sasaran pasar, hingga menyusun konten promosi yang tidak sekadar menawarkan barang. Strategi pemasaran juga perlu disesuaikan dengan kebiasaan calon konsumen. Produk dapat diperkenalkan melalui media sosial, grup komunitas, maupun marketplace, sehingga pemasaran tidak hanya mengandalkan pembeli yang datang secara langsung.

“Materi Business Model Canvas (BMC) serta pendampingan pengemasan pasca panen menjadi kegiatan yang tidak kalah penting dalam program TUMJER DADI, karena melalui kegiatan ini kami membekali masyarakat dengan wawasan bisnis dalam merancang model usaha, membangun brand image, hingga mendesain packaging yang menarik. Kami berharap produk-produk olahan hasil pertanian Desa Ngenep, khususnya olahan jeruk, tidak hanya berkualitas dari segi isi, tetapi juga siap bersaing secara tampilan dan strategi pemasaran di pasaran yang lebih luas.” Ujar Alif, Ketua Kelompok 93, Pemateri Business Model Canvas (BMC)

Bagi masyarakat Tumpangrejo, materi tersebut memberikan sudut pandang baru mengenai potensi produk lokal. Selama ini, perhatian terhadap hasil pertanian sering kali lebih berfokus pada proses produksi dan hasil panen. Padahal, tahap setelah panen juga menentukan bagaimana produk sampai ke tangan konsumen.

Pemahaman tersebut menjadi salah satu nilai penting dari kegiatan edukasi ini. Masyarakat tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan produk, tetapi juga mulai melihat peluang pengembangan dari sisi komunikasi dan pemasaran. Jika produksi menghasilkan barang, maka kemasan memberikan identitas, branding membangun persepsi, sementara pemasaran menjadi jembatan agar produk dapat ditemukan oleh konsumen.

Pada akhirnya, peningkatan nilai sebuah produk tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Perubahan dapat berawal dari cara sebuah produk dikemas, bagaimana identitasnya dibangun, dan bagaimana cerita di baliknya disampaikan kepada konsumen. Dari Tumpangrejo, mahasiswa KKN 93 mendorong satu gagasan sederhana: hasil lokal tidak cukup hanya diproduksi dengan baik, tetapi juga perlu dikenalkan dengan cara yang tepat agar memiliki kesempatan lebih besar untuk tumbuh di pasar. (Tim KKN 93/Fikri)

Tinggalkan komentar