TUMJER DADI: Dari Jeruk Jatuh Jadi Gummy dan Sabun, KKN MAs 93 Bawa Tumpangrejo Makin Berdaya

Malang, syiarmu.com — Jeruk yang jatuh, tak terpakai, atau hanya menyisakan kulit setelah diambil buahnya biasanya berakhir sebagai limbah. Namun, di Dusun Tumpangrejo, Desa Ngenep, mahasiswa KKN MAs Kelompok 93 mencoba melihatnya dari sisi yang berbeda. Melalui workshop “TUMJER DADI: Sari Jeruk/Kulit Jeruk Dadi Karya, Tumpangrejo Dadi Berdaya”, jeruk yang semula dianggap sisa diperkenalkan kembali sebagai bahan yang masih bisa menghasilkan karya.

Workshop ini tidak berlangsung dalam satu kali kegiatan. Rangkaian pertama digelar pada 12 Agustus 2026 dengan kegiatan pengolahan sari jeruk menjadi gummy. Selanjutnya, pada 21 Agustus 2026, kegiatan dilanjutkan dengan pemanfaatan kulit jeruk menjadi sabun cuci piring.

Masyarakat dan ibu-ibu PKK Dusun Tumpangrejo dilibatkan agar dapat melihat dan mencoba langsung proses pengolahannya. Gagasan TUMJER DADI berangkat dari kondisi yang cukup dekat dengan kehidupan warga. Ketika jeruk sudah tidak terpakai atau sarinya telah diambil, bagian yang tersisa sering kali langsung dibuang. Padahal, masih ada bagian dari buah tersebut yang dapat dimanfaatkan.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN MAs Kelompok 93 tidak hanya memberikan penjelasan mengenai limbah jeruk, tetapi juga menunjukkan cara mengolahnya melalui praktik langsung.

Peserta diajak melihat bagaimana sari jeruk dapat menjadi gummy dan bagaimana kulit jeruk dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga. Pendekatan praktik dipilih agar warga tidak hanya mendapatkan informasi, tetapi juga memperoleh pengalaman yang bisa dicoba kembali setelah kegiatan selesai.

“Pelatihan pembuatan permen gummy dari sari jeruk menjadi salah satu kegiatan yang paling berkesan bagi saya dalam program TUMJER DADI, karena kami melihat langsung antusiasme ibu-ibu PKK dan masyarakat dalam mengolah sari jeruk, komoditas unggulan Desa Ngenep, menjadi produk olahan yang bernilai jual lebih tinggi. Melalui pelatihan ini, kami berharap masyarakat dapat berinovasi dan memiliki keterampilan baru dalam pengolahan pangan yang dapat dikembangkan menjadi produk UMKM khas Desa Ngenep, sehingga hasil panen jeruk yang melimpah dapat dimanfaatkan secara lebih maksimal dan berkelanjutan.” Ketua Kelompok 93 KKN MAs 2026

Pada 12 Agustus, rangkaian pertama TUMJER DADI berfokus pada pengolahan sari jeruk menjadi gummy. Peserta diperkenalkan pada proses pengolahan sari jeruk hingga menjadi produk olahan yang memiliki bentuk dan cara konsumsi berbeda dari buah segarnya. Kegiatan kemudian berlanjut pada 21 Agustus dengan pemanfaatan kulit jeruk menjadi sabun cuci piring.

Bagian yang biasanya menjadi sisa setelah buah digunakan justru diarahkan menjadi produk yang dekat dengan kebutuhan sehari-hari.

Dua kegiatan tersebut menunjukkan satu hal sederhana: satu komoditas dapat memiliki lebih dari satu pemanfaatan. Sari dan kulit jeruk tidak harus berakhir pada tempat yang sama sebagai limbah, tetapi dapat diolah menjadi produk dengan fungsi berbeda.

“Jujur, kami sangat terbantu dengan adanya pelatihan TUMJER DADI dari adik-adik KKN MAs Kelompok 93. Selama ini jeruk yang jatuh atau kulit sisa perasan cuma kami buang jadi limbah. Tapi lewat praktik langsung pada 12 dan 21 Agustus kemarin, kami baru tahu kalau sari jeruk bisa diolah jadi permen gummy dan kulitnya bisa bikin sabun cuci piring sendiri. Selain hemat untuk rumah tangga, materi pengemasan dan branding yang diajarkan bikin kami makin bersemangat untuk mencoba mengembangkannya jadi produk UMKM Dusun Tumpangrejo.” Warga Dusun Tumpangrejo

Bagi masyarakat Tumpangrejo, hal ini dapat menjadi contoh bahwa pengolahan hasil pertanian tidak selalu harus dimulai dari bahan yang mahal atau sulit ditemukan. Potensi tersebut bisa berasal dari apa yang sudah tersedia di lingkungan sekitar. Ibu-ibu PKK Dusun Tumpangrejo menjadi bagian penting dalam pelaksanaan workshop. Mereka tidak hanya menerima materi, tetapi juga mengikuti proses pembuatan produk secara langsung.

Keterlibatan tersebut membuat kegiatan terasa lebih dekat dengan aktivitas sehari-hari. Pembuatan gummy berkaitan dengan pengolahan pangan, sedangkan pemanfaatan kulit jeruk menjadi sabun cuci piring berkaitan dengan kebutuhan rumah tangga. Dengan mengikuti praktik secara langsung, peserta dapat memahami proses sekaligus memiliki gambaran mengenai kemungkinan pemanfaatannya kembali di rumah.

“Pemanfaatan limbah kulit jeruk menjadi sabun cuci piring merupakan kegiatan yang sangat berkesan bagi saya, karena melalui program ini kami mengajak masyarakat untuk melihat limbah kulit jeruk yang selama ini terbuang begitu saja sebagai sesuatu yang bernilai ekonomi dan ramah lingkungan. Kami berharap keterampilan ini dapat terus dipraktikkan oleh masyarakat Desa Ngenep, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun sebagai peluang usaha baru, sekaligus menjadi langkah kecil dalam mendukung pengelolaan limbah pertanian yang lebih berkelanjutan.” Ketua Kelompok 93 KKN MAs 2026

Nama TUMJER DADI membawa pesan utama dari kegiatan ini: sari jeruk dan kulit jeruk dadi karya, Tumpangrejo dadi berdaya. Artinya, pemanfaatan jeruk tidak berhenti pada upaya mengurangi limbah, tetapi diarahkan pada bagaimana bahan tersebut dapat menjadi sesuatu yang memiliki nilai.

Bagi Kelompok 93, pemberdayaan masyarakat tidak harus selalu dimulai dari program yang besar. Mengenalkan cara baru dalam memanfaatkan bahan yang sudah ada di sekitar merupakan salah satu langkah yang bisa dilakukan.

Apalagi, hasil dari kegiatan ini masih dapat dikembangkan. Gummy dan sabun cuci piring yang telah dibuat dapat menjadi awal untuk membahas hal lain, seperti kemasan, identitas produk, branding, hingga pemasaran. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya belajar membuat produk, tetapi juga mulai mengenal tahapan yang dibutuhkan agar produk tersebut dapat dikembangkan lebih jauh.

TUMJER DADI membawa nilai yang lebih besar daripada sekadar membuat gummy dan sabun. Kegiatan ini mengajak masyarakat untuk mengubah cara pandang terhadap sesuatu yang selama ini dianggap tidak bernilai. Jeruk jatuh atau bagian kulit yang tersisa bukan lagi sekadar sisa. Dengan pengetahuan dan pengolahan yang tepat, bahan tersebut dapat menjadi awal dari sebuah produk.

Bagi Dusun Tumpangrejo, gagasan ini menjadi salah satu cara untuk melihat kembali potensi lokal yang dimiliki. Hasil pertanian tidak hanya dapat dijual atau dikonsumsi dalam bentuk segar, tetapi juga bisa dikembangkan menjadi produk lain yang memiliki nilai tambah.

Dua rangkaian kegiatan pada 12 dan 21 Agustus menjadi bagian dari langkah kecil Kelompok 93 untuk mengenalkan pemanfaatan limbah jeruk kepada masyarakat Dusun Tumpangrejo. Dari sari jeruk menjadi gummy. Dari kulit jeruk menjadi sabun cuci piring. Dua produk tersebut menjadi contoh bahwa satu komoditas dapat memberikan lebih banyak manfaat ketika masyarakat mau melihatnya dari sudut pandang yang berbeda.

Pada akhirnya, semangat TUMJER DADI bukan hanya tentang bagaimana mengubah jeruk menjadi produk. Lebih dari itu, kegiatan ini ingin menunjukkan bahwa pemberdayaan bisa dimulai dari sesuatu yang sudah ada di sekitar masyarakat.

Jeruk jatuh tidak harus berakhir sebagai sampah. Dari sesuatu yang hampir terbuang, lahir karya. Dan dari karya sederhana itu, Tumpangrejo bisa terus bergerak menjadi lebih berdaya. (Tim KKN 93/Fikri)

Tinggalkan komentar