Surabaya, syiarmu.com – Majelis Tabligh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Krembangan menggelar Pengajian Keluarga Sakinah pada Ahad (1/10/2026), bertempat di Masjid Al-Muttaqin, Jl. Gresik Gadukan No. 99, Surabaya. Pengajian yang berlangsung mulai pukul 06.00 WIB ini menghadirkan penceramah Dr. Nurbani Yusuf, M.Si., Dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), dengan mengangkat tema mendalam yakni “Pak AR Fakhruddin, Muhammadiyah itu Islam Nyah-Nyoh”.
Dalam pemaparannya, Dr. Nurbani Yusuf mengurai secara komprehensif akar sejarah, nilai spiritual, serta karakter filantropi yang menjadikan Muhammadiyah tumbuh sebagai salah satu organisasi Islam terbesar dan terkelola secara modern di dunia.

Dr. Nurbani mengawali ceramahnya dengan mengingatkan jamaah pada kisah monumental pendiri Muhammadiyah, K.H. Ahmad Dahlan, sekitar tahun 1921–1922. Kala itu, pendiri Muhammadiyah tersebut mengambil tindakan drastis dengan menglelang perabotan rumah tangganya demi menyelamatkan sekolah Muhammadiyah.
“Pengorbanan K.H. Ahmad Dahlan menegaskan bahwa kesalehan pribadi saja tidak pernah cukup. Agama melarang sikap kikir, bahkan Al-Qur’an mengategorikan orang yang enggan berderma dan mengabaikan anak yatim serta fakir miskin sebagai pendusta agama, sebagaimana diajarkan dalam Teologi Al-Ma’un,” tegas Nurbani.
Spirit ini pulalah yang melandasi berdirinya sekolah pertama Muhammadiyah pada tahun 1918, hingga berkembang pesat menjadi ribuan amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial saat ini.


Mengaitkan tema “Islam Nyah-Nyoh” (istilah Jawa yang bermakna pemurah dan gemar memberi tanpa ragu), penceramah mengisahkan keteladanan sahabat Nabi Muhammad SAW, Abdurrahman bin Auf r.a. Sebagai salah satu dari 10 sahabat yang dijamin masuk surga. Abdurrahman bin Auf dikenal akan kekayaannya yang melimpah dan sangat dermawan.
Dikisahkan, saat Kota Madinah terancam paceklik akibat panen kurma yang busuk, Abdurrahman bin Auf justru membeli seluruh kurma busuk milik petani demi menolong mereka. Tak lama kemudian, utusan dari Yaman datang membeli kurma busuk tersebut dengan harga berlipat ganda sebagai obat wabah cacar.
“Abdurrahman bin Auf dicintai dan dimuliakan bukan karena menimbun harta, melainkan karena kegemarannya memberi makan dan berbagi. Muhammadiyah bisa besar dan kaya asetnya karena memegang erat prinsip keberkahan filantropi ini, suka memberi dan melayani masyarakat,” tambahnya.

Pengajian ini juga mengutip pandangan mantan Presiden RI, K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), mengenai keberhasilan dakwah Muhammadiyah. Gus Dur pernah berseloroh, namun penuh makna bahwa organisasi Muhammadiyah itu gemuk/kaya, tetapi pengurusnya kurus.
Maknanya, seluruh aset, amal usaha seperti rumah sakit, sekolah, dan panti asuhan dikelola secara profesional dan sistematis atas nama organisasi. Sementara para pimpinan dan pengurusnya hidup sederhana, ikhlas, serta tidak memperkaya diri dari harta organisasi. Pimpinan Muhammadiyah senantiasa menanamkan keikhlasan dalam berkhidmat, termasuk dalam tradisi mendoakan sesama.
Lebih lanjut, penceramah memaparkan konsep “kemenangan dialektik” Muhammadiyah yang dirujuk oleh Gus Dur. Jika dahulu dakwah Muhammadiyah berfokus pada perang melawan bid’ah dengan membangun masjid, serta perang melawan perdukunan dengan membangun rumah sakit, kini nilai-nilai rasionalitas dan pelayanan publik tersebut telah diserap secara luas oleh bangsa Indonesia.
Kiprah Muhammadiyah sebagai benteng filantropi dan pendidikan bangsa juga tercermin dari sejarah para tokoh nasional.
Ir. Soekarno, Presiden pertama RI, merupakan kader Muhammadiyah. Hj. Fatmawati, Ibu Negara penjahit Sang Saka Merah Putih, adalah kader aktif ‘Aisyiyah. Presiden Soeharto, dalam pembukaan Muktamar ke-43 Muhammadiyah di Stadion Lam Pineung, Banda Aceh, pada Juli 1995, secara terbuka menyatakan, “Saya ini bibit Muhammadiyah yang ditanam di bumi Indonesia.” (Fikri)
