Ramadan sebagai Anugerah: Menjemput Ridha Allah dengan Kerinduan dan Keikhlasan

Surabaya, syiarmu.com – Suasana khidmat menyelimuti Masjid Al-Islam PCM Krembangan pada Sabtu malam (21/2/2026). Ratusan jemaah hadir untuk melaksanakan ibadah sekaligus mendengarkan siraman rohani dari Ustaz Marzuki Bengkari dalam rangkaian ceramah tarawih.

Dalam tausiyahnya, Ustaz Marzuki menekankan bahwa Ramadan adalah anugerah besar yang harus disikapi dengan kesiapan mental dan spiritual yang matang. Beliau mengingatkan kembali sabda Rasulullah saw. mengenai keutamaan bulan ini.

Ustaz Marzuki menjelaskan bahwa kedatangan bulan Ramadan membawa perubahan besar di alam semesta. Nabi Muhammad saw. menjelaskan tiga keutamaan bulan Ramadan, yakni Pertama pintu surga dibuka, menandakan luasnya rahmat Allah. Kedua, pintu neraka ditutup, memberikan kesempatan bagi hamba-Nya untuk bertobat. Ketiga, setan dibelenggu, memberikan ruang bagi manusia untuk fokus memperbaiki diri tanpa gangguan yang berarti.

Salah satu poin menarik yang disampaikan adalah mengenai “bonus” luar biasa berupa malam kemuliaan (Lailatulqadar).

“Allah memberikan malam yang lebih baik dari 1.000 bulan. Jika kita mendapatkannya, itu setara dengan beribadah selama 83 tahun. Ini adalah pelipatgandaan pahala yang tidak ditemukan di bulan-bulan lainnya,” ujar beliau di hadapan jemaah yang antusias.

Ustaz Marzuki melontarkan pertanyaan reflektif kepada jemaah, “Apakah kita merasa bahagia atau justru susah dengan datangnya Ramadan?”

“Jika Ramadan datang kepada kita dengan landasan cinta, maka akan timbul rasa rindu. Dan jika sudah rindu, kita akan rela berkorban dengan waktu, tenaga, hingga harta untuk menjalankannya demi menggapai satu tujuan, yakni rida Allah swt.,” tegasnya.

Menutup ceramahnya, Ustaz Marzuki memberikan catatan penting mengenai cara kita mengisi hari-hari di bulan suci ini. Ia menekankan bahwa tujuan utama adalah mencapai derajat ketakwaan dengan landasan ikhlas.

“Indikator keikhlasan itu sederhana: kita beribadah dengan sungguh-sungguh. Namun, jika Ramadan terasa sebagai beban, maka ada yang salah dalam cara kita mengisi bulan ini. Periksa kembali hati kita, apakah orientasinya sudah benar-benar karena Allah atau hanya sekadar rutinitas,” pungkasnya. (Wahid/Fikri)

Tinggalkan komentar