Nganjuk, syiarmu.com — Praktik perundungan (bullying) di kalangan anak-anak marak terjadi dan isu ini tidak boleh dinormalisasi. Mengambil peran aktif dalam merespons isu tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) Kelompok 3 menggelar kelas edukasi anti-perundungan bagi siswa kelas 3 dan 4 di SDN 2 Kedungsoko pada Jumat (24/7/2026) pagi.
Inisiatif program ini tidak lahir dari ruang hampa. Selama kurang lebih 19 hari berinteraksi dan mengabdi di desa, tim KKN mengobservasi adanya bibit-bibit perilaku perundungan di lingkungan bermain anak-anak. Menyadari risiko jangka panjangnya, pendekatan edukatif di bangku sekolah pun dipilih sebagai solusi konkret.

Niat baik ini disambut dengan tangan terbuka oleh pihak SDN 2 Kedungsoko. Sekolah memberikan dukungan penuh dengan memfasilitasi ruang kelas, perangkat proyektor, hingga mengalokasikan jam belajar resmi bagi tim KKN dari pukul 08.00 hingga 10.30 WIB.
Proses edukasi dirancang secara bertahap agar mudah dicerna oleh anak-anak. Pada sesi awal yang berlangsung satu arah, mahasiswa memaparkan materi dasar untuk membangun batasan. Siswa dikenalkan pada definisi perundungan, jenis-jenisnya di lingkup keseharian mereka, hingga dampak psikologis bagi pelaku maupun korban. Mahasiswa juga membedah akar penyebab mengapa seseorang bisa menjadi perundung, serta bagaimana peran individu dan lingkungan dalam mencegahnya.


Menyadari bahwa sekadar “tahu” tidaklah cukup, alur kelas kemudian diubah menjadi komunikasi dua arah. Memanfaatkan media ajar interaktif berupa papan pop-up yang merangkum seluruh materi, anak-anak ditantang untuk menjelaskan kembali makna perundungan menggunakan bahasa dan sudut pandang mereka sendiri. Pendekatan ini menuntut siswa untuk benar-benar paham makna empati secara kognitif.
Titik emosional dari kegiatan ini terjadi ketika mahasiswa mengubah suasana kelas menjadi lebih kontemplatif. Sesi refleksi dan apresiasi diri ini rupanya berhasil menyentuh hati para siswa. Suasana haru menyeruak; beberapa anak tak segan meneteskan air mata, sementara yang lain akhirnya memberanikan diri untuk bersuara dan bercerita.

Setelah suasana dicairkan kembali melalui sesi ice breaking yang diiringi gerakan dan lagu ceria, tim KKN menggali realitas lapangan lebih dalam. Para siswa diajak untuk menumpahkan pengalaman nyata atau perasaan mereka terkait perundungan di atas secarik kertas post-it. Kertas-kertas curahan hati tersebut kemudian ditempelkan bersama di papan tulis dan saling dibaca, menciptakan kesadaran komunal bahwa tidak ada yang berjuang sendirian.
Rangkaian kegiatan yang padat namun menggugah ini ditutup dengan sesi dokumentasi yang menyenangkan. Membawa semangat kebersamaan, tim KKN menyediakan fasilitas semi-photobooth lengkap dengan bingkai bertema anti-perundungan sebagai kenang-kenangan. Melalui intervensi ruang kelas ini, diharapkan tunas-tunas muda di SDN 2 Kedungsoko dapat membangun lingkungan bermain yang aman, saling melindungi, dan terbebas dari bayang-bayang perundungan. (Tim KKN 3/Fikri)
