Membangun Pilar Dakwah di Pakis Gunung: Perjuangan Tanpa Henti Bapak Abdullah

Surabaya, syiarmu.com – Kisah ini adalah catatan tentang perjuangan dakwah dan kemanusiaan yang berakar di Pakis Gunung, Surabaya. Ia berawal dari tangan dingin seorang guru agama, Pak Abdullah, yang dididik dalam semangat Muhammadiyah sejak tahun 1961 di Masjid Khadijah, Malang. Dengan prinsip teguh: “Besarkan Muhammadiyah, jangan makan dari Muhammadiyah,” ia menjadi simbol ketulusan dalam berkhidmat.

Masa Muda dan Fondasi Awal
Lulus dari PGA Negeri Malang pada tahun 1964, karir mengajar Pak Abdullah dimulai. Namun, benih perjuangan terbesarnya tertanam ketika ia menetap di Pakis Gunung pada tahun 1975.

“Ketika saya datang ke sini tahun 1975, kondisi masyarakat Pakis Gunung adalah masyarakat yang ‘hitam’—dalam artian tingkah laku. Siapa saja takut dengan orang Pakis. Saat itu, masjid belum ada, tetapi gereja sudah berdiri,” kenang Pak Abdullah.

Situasi menjadi semakin genting ketika umat Nasrani mulai gencar menyantuni warga setempat, menarik banyak masyarakat yang kurang mampu. Misi awal Pak Abdullah dan rekan-rekannya, Almarhum Pak Yulianto dan Pak Samadi, adalah menyelamatkan akidah masyarakat dengan merintis kegiatan di Masjid Al-Amin.

Karena kegiatan santunan Nasrani sering membawa anak-anak ke rumah mereka, Pak Abdullah memutuskan untuk membawa anak-anak tersebut ke rumahnya sendiri untuk mengaji dan menerima santunan. Rumahnya yang sederhana, pada tahun 1975, berfungsi ganda sebagai markas dakwah.

Namun, rintisan ini tak lepas dari cibiran: “Sombong, membuat fondasi besar tidak akan bisa meneruskan!”

Tantangan terbesar yang dihadapi bukanlah gesekan dengan pihak gereja yang mundur perlahan seiring kegiatan Islam yang aktif melainkan korupsi yang dilakukan oleh oknum penyantun gereja, yang justru menjadi celah bagi Pak Abdullah untuk menarik anak-anak kembali mengaji.

Pada tahun 1988, semangat perjuangan ini berwujud nyata. Mereka membeli sebidang tanah untuk Panti Asuhan seharga Rp10 juta. Dibangun mulai tahun 1990 dan selesai pada tahun 1997, proyek ini menjadi saksi mukjizat perjuangan.

“Sumbangan datang seperti hujan, banyak sekali. Kami mengirimkan formulir ke Pak Harto, Akbar Tandjung, bahkan Jenderal Yusuf ikut menyumbang,” ungkapnya.

Panti Asuhan yang didirikan berkembang hingga memiliki tiga gedung dan menyantuni anak-anak sejak usia TK hingga SMA. Awalnya, dana didapat dari donatur yang didatangi ke rumah-rumah atau dengan mengundang anak-anak ke rumah donatur terpandang.

Sebagai guru, ia juga memanfaatkan jejaring teman-teman guru di berbagai sekolah untuk menjadi donatur bulanan, yang bahkan masih berlanjut hingga kini.
Prinsip Keuangan dan Nilai Sejati
Dalam mengelola keuangan, ia menerapkan sistem yang memastikan uang santunan benar-benar bermanfaat.

Anak-anak yang diundang diberi uang, tetapi ketika didapati uang tersebut habis tanpa hasil, sistem diubah: uang ditarik dan dikelola untuk kebutuhan bulanan dan biaya daftar ulang sekolah.

Sebagian dana dikelola dengan bijak, seperti ketika seorang anak asuh bernama Fauzin tidak mengambil santunan bulanan, uangnya diakumulasi hingga ia bisa membeli sepeda motor Mio. Bahkan, menjelang akhir pengurusannya pada tahun 2013, masih ada sisa kas sekitar Rp30 juta dan tambahan Rp100 juta yang diserahkan kepada pengurus baru.

Bagi Pak Abdullah, harta Panti harus digunakan untuk Panti, bukan untuk pengurus. “Mengapa rumah saya tidak seperti ini kalau saya korupsi? Dulu, ketika mobil Panti rusak, saya suruh langsung mengganti, bahkan jika saya yang harus membayar gantinya,” tegasnya, menegaskan prinsip antikorupsi yang dipegangnya.

Pada tahun 2013, setelah memastikan pondasi kokoh, Pak Abdullah menyerahkan kepengurusan Panti. Keputusan ini didasari prinsip bahwa generasi baru harus melanjutkan dan bahkan lebih baik dari pendahulunya. Ia berpesan, “Generasi berikutnya harus bekerja lebih baik daripada saya.”

Ketika tak lagi di Panti, ia mendirikan Yayasan sendiri, Yayasan Abdullah Sholeh, namun tetap berjuang dalam koridor dakwah dan siap membantu Muhammadiyah jika dibutuhkan.

Di usia 80 tahun, Pak Abdullah masih aktif berdakwah dan berceramah. Kunci kekuatannya selain keteladanan orang tuanya yang buta huruf namun kuat dalam keislaman adalah tahajud dan sedekah. Ia menekankan bahwa perjuangan seorang Muhammadiyah tidak pernah berhenti.

“Kita seperti menanam pohon kurma. Walaupun kita tidak merasakannya, anak cucu kita nanti yang akan menikmati buahnya. Keinginan saya adalah Panti ini punya sekolah, karena ini nanti akan menjadi amalan yang besar.”

Kisah ini adalah inspirasi bagi setiap pejuang pergerakan, sebuah pengingat bahwa ketulusan berjuang di jalan Allah akan selalu menuai berkah yang tak terduga. (Adi Pramono/Fikri)

Tinggalkan komentar