Sinergi Warga dan Mahasiswa KKN Umsura, Tradisi Bersih Desa Wonorejo Kediri Berlangsung Meriah

Kediri, syiarmu.com – Tradisi Bersih Desa merupakan salah satu warisan budaya yang hingga kini masih dijaga oleh masyarakat di berbagai daerah di Indonesia. Tradisi ini bukan sekadar kegiatan seremonial tahunan, melainkan menjadi momentum untuk mempererat hubungan antarmasyarakat, menumbuhkan semangat gotong royong, serta mengungkapkan rasa syukur kepada Allah SWT atas segala nikmat, keselamatan, dan rezeki yang telah diberikan.

Semangat tersebut tampak dalam pelaksanaan Bersih Desa Wonorejo, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri, yang diselenggarakan pada Kamis (9/7/2026) dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat, termasuk mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura). Kegiatan yang dipusatkan di halaman Balai Desa Wonorejo berlangsung meriah dan penuh kekeluargaan.

Sejak sore hari, masyarakat mulai berdatangan dengan membawa berbagai hidangan yang akan disantap bersama dalam tradisi nyadran. Tidak hanya warga setempat, acara ini juga dihadiri oleh Kepala Desa Wonorejo beserta perangkat desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda, mahasiswa KKN, serta tamu undangan lainnya.

Kehadiran seluruh lapisan masyarakat menunjukkan bahwa tradisi Bersih Desa masih memiliki makna yang sangat penting dalam kehidupan sosial masyarakat Desa Wonorejo.

Mahasiswa KKN yang sedang melaksanakan pengabdian di Desa Wonorejo turut mengambil bagian dalam berbagai rangkaian kegiatan. Sejak tahap persiapan, mereka membantu panitia menata lokasi, mengatur perlengkapan, mempersiapkan konsumsi, hingga mendokumentasikan jalannya acara. Partisipasi aktif mahasiswa menjadi salah satu bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada aspek pengabdian kepada masyarakat.

Melalui keterlibatan secara langsung, mahasiswa memperoleh pengalaman nyata mengenai kehidupan sosial masyarakat desa sekaligus belajar memahami nilai-nilai budaya lokal yang masih lestari hingga saat ini.
Rangkaian kegiatan Bersih Desa diawali dengan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama setempat.

Seluruh peserta mengikuti doa dengan khusyuk sebagai bentuk permohonan kepada Allah SWT agar masyarakat Desa Wonorejo senantiasa diberikan kesehatan, keselamatan, keberkahan, serta dijauhkan dari segala bentuk bencana dan musibah. Selain sebagai ungkapan rasa syukur, doa bersama juga menjadi simbol harapan agar kehidupan masyarakat tetap harmonis, damai, dan penuh keberkahan di masa mendatang.

Setelah doa bersama selesai, kegiatan dilanjutkan dengan tradisi nyadran atau makan bersama. Masyarakat duduk berkelompok di atas tikar yang telah disiapkan sambil menikmati hidangan yang dibawa secara gotong royong. Berbagai menu khas desa tersaji di atas daun pisang maupun wadah sederhana, mencerminkan nilai kebersamaan tanpa membedakan status sosial maupun usia. Suasana penuh keakraban terlihat ketika warga saling berbincang, berbagi makanan, serta menikmati kebersamaan dalam suasana yang hangat.

Tradisi makan bersama memiliki makna yang sangat mendalam bagi masyarakat Desa Wonorejo. Selain menjadi simbol rasa syukur atas hasil bumi dan rezeki yang telah diperoleh, kegiatan ini juga menjadi media untuk mempererat tali silaturahmi antarwarga. Dalam kehidupan sehari-hari yang semakin dipengaruhi oleh kesibukan masing-masing, momentum seperti Bersih Desa menjadi kesempatan berharga untuk berkumpul, saling menyapa, serta memperkuat hubungan sosial yang telah terjalin sejak lama.

Mahasiswa KKN tidak hanya berperan sebagai peserta, tetapi juga berbaur bersama masyarakat selama kegiatan berlangsung. Mereka turut menikmati hidangan bersama warga, membantu membagikan makanan, menjaga kebersihan area kegiatan, serta mendokumentasikan setiap rangkaian acara. Interaksi yang terjalin secara langsung memberikan pengalaman berharga bagi mahasiswa dalam memahami kehidupan masyarakat desa yang masih menjunjung tinggi nilai gotong royong, kebersamaan, dan saling menghormati.

Selain menjadi ajang silaturahmi, kegiatan Bersih Desa juga menjadi sarana pembelajaran mengenai pentingnya melestarikan budaya lokal di tengah perkembangan zaman. Arus modernisasi yang semakin pesat tidak sedikit menggeser tradisi-tradisi masyarakat. Namun demikian, masyarakat Desa Wonorejo tetap berkomitmen mempertahankan tradisi ini sebagai bagian dari identitas desa yang diwariskan secara turun-temurun.

Keikutsertaan generasi muda, termasuk mahasiswa KKN, diharapkan mampu menjaga keberlangsungan tradisi agar tetap dikenal dan dilestarikan oleh generasi berikutnya.

Dalam pelaksanaan kegiatan terlihat pula semangat gotong royong yang begitu kuat. Warga bersama-sama mempersiapkan tempat, menggelar tikar, menata konsumsi, hingga membersihkan lokasi setelah acara selesai. Semua pekerjaan dilakukan secara sukarela tanpa mengharapkan imbalan. Nilai gotong royong inilah yang menjadi salah satu kekuatan masyarakat pedesaan dalam menjaga persatuan dan keharmonisan kehidupan bermasyarakat.

Bagi mahasiswa KKN, keterlibatan dalam kegiatan Bersih Desa menjadi pengalaman yang tidak dapat diperoleh di ruang perkuliahan. Mereka belajar bahwa pembangunan masyarakat tidak hanya dilakukan melalui program fisik maupun pemberdayaan ekonomi, tetapi juga melalui upaya menjaga nilai-nilai sosial dan budaya yang telah menjadi identitas suatu daerah.

Pengalaman tersebut diharapkan dapat membentuk karakter mahasiswa agar lebih peduli terhadap masyarakat, menghargai keberagaman budaya, serta mampu bekerja sama dengan berbagai lapisan masyarakat.
Suasana kegiatan semakin terasa hangat ketika seluruh peserta mengikuti sesi ramah tamah dan dokumentasi bersama. Mahasiswa KKN, perangkat desa, tokoh masyarakat, dan warga berfoto bersama sebagai bentuk kenangan atas terselenggaranya kegiatan Bersih Desa tahun 2026.

Momen ini menjadi simbol terjalinnya hubungan yang baik antara masyarakat dan mahasiswa selama pelaksanaan program KKN di Desa Wonorejo.
Kepala Desa Wonorejo Bapak Heri Irawan menyampaikan apresiasi kepada seluruh masyarakat yang telah berpartisipasi dalam menyukseskan kegiatan Bersih Desa.

Beliau juga mengucapkan terima kasih kepada mahasiswa KKN yang telah ikut membantu sejak persiapan hingga pelaksanaan kegiatan. Menurutnya, kehadiran mahasiswa memberikan semangat baru bagi masyarakat sekaligus menunjukkan bahwa generasi muda masih memiliki kepedulian terhadap pelestarian budaya lokal.

Mahasiswa KKN juga menyampaikan rasa syukur karena dapat menjadi bagian dari tradisi yang penuh makna tersebut. Mereka mengaku memperoleh banyak pelajaran tentang pentingnya menjaga kebersamaan, menghormati adat istiadat, serta membangun komunikasi yang baik dengan masyarakat.

Pengalaman tersebut menjadi bekal berharga dalam membentuk sikap kepemimpinan, empati, dan tanggung jawab sosial sebagai calon intelektual yang akan mengabdi kepada masyarakat.
Melalui kegiatan Bersih Desa, masyarakat Desa Wonorejo kembali membuktikan bahwa tradisi lokal masih memiliki peran penting dalam memperkuat persatuan dan keharmonisan kehidupan bermasyarakat.

Tradisi ini tidak hanya menjadi bentuk rasa syukur kepada Allah SWT, tetapi juga menjadi media untuk menanamkan nilai gotong royong, kebersamaan, toleransi, serta kepedulian sosial kepada seluruh warga, khususnya generasi muda.

Pelaksanaan Bersih Desa Wonorejo tahun 2026 diharapkan menjadi inspirasi bagi desa-desa lain untuk terus melestarikan budaya lokal sebagai bagian dari kekayaan bangsa Indonesia. Sinergi antara pemerintah desa, tokoh masyarakat, masyarakat umum, dan mahasiswa KKN menunjukkan bahwa pelestarian budaya akan semakin kuat apabila dilakukan secara bersama-sama.

Dengan semangat kebersamaan tersebut, tradisi Bersih Desa diharapkan terus hidup dan berkembang sebagai warisan budaya yang mampu mempererat persaudaraan, memperkuat identitas masyarakat, serta menjadi pengingat bahwa rasa syukur, gotong royong, dan kepedulian terhadap sesama merupakan nilai-nilai luhur yang harus terus dijaga dari generasi ke generasi. (Ainia Fajriyah/Fikri)

Tinggalkan komentar