Bantu Lansia Ngenep Lebih Bijak Obat, Mahasiswa KKN Gelar Edukasi DAGUSIBU untuk Penderita Diabetes

Malang, syiarmu.com— Mahasiswa KKN MAs Kelompok 93 meluncurkan program DAGUSIBU (Dapatkan, Gunakan, Simpan, Buang) bagi masyarakat Desa Ngenep. Kegiatan yang berlangsung di Balai Desa Ngenep pada 20 Agustus 2026 ini berfokus pada edukasi pengelolaan obat, khususnya obat untuk diabetes mellitus, dengan melibatkan kader Posyandu dan perawat desa.

Program tersebut dirancang oleh salah satu anggota KKN MAs Kelompok 93 dari Program Studi Farmasi. Pemilihan tema diabetes mellitus bukan tanpa alasan. Penggunaan obat untuk penyakit kronis membutuhkan perhatian lebih karena sebagian masyarakat perlu mengonsumsi obat secara rutin dalam jangka panjang. Melalui DAGUSIBU, masyarakat tidak hanya diajak memahami kapan obat harus diminum, tetapi juga bagaimana memperoleh, menggunakan, menyimpan, hingga membuang obat dengan tepat.

DAGUSIBU merupakan edukasi yang mengenalkan empat tahapan penting dalam pengelolaan obat. Dapatkan berarti masyarakat perlu memperoleh obat dari tempat yang tepat dan sesuai anjuran tenaga kesehatan. Selanjutnya, Gunakan mengingatkan masyarakat untuk mengikuti aturan pakai dan dosis yang telah diberikan.

Pada tahap Simpan, masyarakat diajak memperhatikan kondisi penyimpanan obat sesuai petunjuk pada kemasan. Sementara Buang memberikan pemahaman mengenai pentingnya membuang obat yang sudah kedaluwarsa atau tidak digunakan lagi dengan cara yang tepat.

Hal sederhana tersebut masih sering luput dari perhatian. Sebagian masyarakat mungkin sudah mengetahui waktu minum obat, tetapi belum tentu memahami cara menyimpan atau memperlakukan obat yang sudah tidak digunakan.

“Kami sangat senang bisa memberikan edukasi DAGUSIBU kepada para lansia di Posyandu. Melalui kegiatan ini, kami ingin membantu lansia memahami cara mendapatkan, menggunakan, menyimpan, dan membuang obat dengan benar, karena obat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, terutaama bagi lansia yang rutin mengonsumsi obat. Kami berharap edukasi sederhana ini dapat diterapkan dalam kehidupan masyarakat lebih bijak dalam megguanakan obat,” — ujar Yuli Anum Anindita Kelompok 93, Program Studi Farmasi.

Pelaksanaan kegiatan tidak hanya melibatkan mahasiswa. Posyandu dan perawat Desa Ngenep turut berperan dalam mendukung penyampaian edukasi kepada masyarakat. Kolaborasi ini membuat materi yang diberikan lebih dekat dengan kebutuhan warga.

Peserta juga dapat menyampaikan pertanyaan mengenai kebiasaan penggunaan obat yang mereka lakukan di rumah. Bagi tenaga kesehatan desa, kegiatan semacam ini menjadi tambahan edukasi yang dapat membantu masyarakat memahami penggunaan obat secara lebih tepat.

Kegiatan pada 20 Agustus 2026 tersebut menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk mendapatkan informasi secara langsung sekaligus berdiskusi mengenai pengelolaan obat. Kehadiran perawat desa dan kader Posyandu juga membantu menghubungkan materi yang diberikan mahasiswa dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat di lingkungan Desa Ngenep.

“Edukasi seperti ini menjadi salah satu cara untuk mengingatkan kembali masyarakat bahwa obat perlu digunakan dengan perhatian dan tanggung jawab. Terutama bagi lansia yang mungkin menggunakan lebih dari satu jenis obat, penting bagi mereka untuk mengetahui obat yang dikonsumsi dan mengikuti petunjuk penggunaannya. Kami berharap kegiatan ini dapat menjadi pengalaman yang bermanfaat bagi mahasiswa sekaligus membantu masyarakat lebih peduli terhadap penggunaan obat sehari-hari,” — ujar Ibu Anita, Perawat Desa.

Hal senada juga disampaikan oleh pihak Posyandu yang melihat kegiatan tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap edukasi kesehatan masyarakat.

“Menurut saya kegiatan seperti ini sangat cocok diberikan saat Posyandu karena lansia bisa mendapatkan informasi kesehatan sambil menunggu atau setelah selesai diperiksa. Penyampaiannya juga lebih mudah karena mahasiswa menjelaskan secara langsung dan lansia bisa bertanya sesuai dengan obat yang mereka gunakan di rumah. Semoga kegiatan ini bisa menambah pengetahuan dan membuat lansia semakin perhatian terhadap obat yang mereka konsumsi,” — ujar Ibu Siti, Ketua Posyandu Lansia

Bagi KKN MAs Kelompok 93, DAGUSIBU bukan sekadar kegiatan penyuluhan. Program ini menjadi salah satu bentuk penerapan ilmu yang dimiliki mahasiswa untuk menjawab kebutuhan masyarakat secara langsung.

Kehadiran mahasiswa Farmasi dalam perancangan kegiatan juga menjadi nilai tersendiri karena edukasi dapat diarahkan pada penggunaan obat yang tepat dan bertanggung jawab. Sementara keterlibatan Posyandu serta perawat desa membuka ruang agar pengetahuan yang diberikan dapat terus diterapkan setelah kegiatan KKN berakhir.

Program ini juga diharapkan dapat memberikan bekal sederhana yang bisa diterapkan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Terlebih bagi masyarakat yang memiliki obat rutin di rumah, pemahaman mengenai cara memperoleh, menggunakan, menyimpan, dan membuang obat dapat membantu mengurangi kesalahan dalam pengelolaannya.

Melalui program DAGUSIBU, KKN MAs Kelompok 93 berupaya menghadirkan edukasi yang sederhana, tetapi memiliki manfaat nyata. Masyarakat diajak memahami bahwa pengelolaan obat merupakan bagian dari menjaga kesehatan.

Pelaksanaan ini juga menjadi bentuk kontribusi KKN MAs Kelompok 93 dalam memberikan edukasi yang dapat dibawa pulang dan diterapkan oleh masyarakat. Tidak berhenti pada kegiatan di Balai Desa, pengetahuan mengenai DAGUSIBU diharapkan dapat menjadi kebiasaan ketika warga mengelola obat di rumah.

Dengan mengenal empat langkah DAGUSIBU, masyarakat diharapkan semakin bijak dalam memperlakukan obat, terutama obat yang digunakan secara rutin untuk diabetes mellitus. Dapatkan dengan tepat, gunakan sesuai aturan, simpan dengan benar, dan buang secara aman menjadi pesan utama yang dibawa KKN MAs Kelompok 93 melalui program tersebut. (Tim KKN 93/Fikri)

Tinggalkan komentar