Survei IPR Jatim 2025: Potensi Radikalisme Menurun, Ruang Digital Tetap Perlu Diwaspadai

Surabaya, syiarmu.com – Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Timur menggelar Kajian Senin Kamis (KSK) bertema “Pencegahan Paham Radikal di Ruang Digital” yang mengangkat hasil Survei Indeks Potensi Radikalisme (IPR) Provinsi Jawa Timur Tahun 2025, Senin (15/6/2026) melalui Zoom Meeting.

Kasubdit Pemberdayaan Masyarakat Direktorat Pencegahan BNPT RI, Kolonel (Sus) Dr. Hariyanto, S.Pd., M.Pd., mengatakan bahwa ruang digital saat ini menjadi salah satu arena utama yang perlu mendapat perhatian serius dalam upaya pencegahan radikalisme.

Menurutnya, hampir seluruh Generasi Z telah terhubung dengan internet dengan tingkat penetrasi mencapai 99 persen, disusul generasi milenial sebesar 87 persen dan Generasi X sebesar 63 persen. Tingginya aktivitas digital tersebut juga diikuti meningkatnya pencarian konten keagamaan melalui media sosial.

“Mayoritas pengguna internet menerima konten keagamaan melalui platform digital dan hampir setengahnya turut menyebarkan kembali konten tersebut. Kondisi ini menjadi pintu masuk potensial bagi infiltrasi paham radikal, terutama yang menyasar anak-anak dan generasi muda,” ujarnya.

Hariyanto menambahkan, pemerintah telah menerbitkan berbagai regulasi, termasuk PP Tunas tentang Tata Kelola dan Perlindungan Anak di Ruang Digital, sebagai langkah memperkuat perlindungan masyarakat dari berbagai ancaman di dunia maya.

Sementara itu, Kepala Bidang Penelitian FKPT Jawa Timur, Muhammad Arifin, M.Ag., memaparkan hasil Survei Indeks Potensi Radikalisme (IPR) Tahun 2025 yang menunjukkan angka IPR Jawa Timur berada pada level 11,9 dan mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.

“Penurunan terutama terjadi pada dimensi pemahaman dan sikap. Ini menunjukkan adanya peningkatan kesadaran masyarakat terhadap bahaya paham radikal sebagai hasil kolaborasi berbagai pihak,” jelas Arifin.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa tingginya penggunaan media sosial untuk mengakses konten keagamaan perlu menjadi perhatian bersama. Hasil survei menunjukkan sebanyak 75 persen netizen Jawa Timur mencari konten keagamaan melalui internet, sementara 44 persen di antaranya aktif menyebarkan kembali konten tersebut kepada orang lain.

Ketua FKPT Jawa Timur, Prof. Dr. Hj. Husniyatus Salamah Zainiyati, M.Ag., mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak lengah meskipun indeks potensi radikalisme menunjukkan tren penurunan.

“Kita patut bersyukur karena indeks potensi radikalisme menurun. Namun kita tetap harus waspada karena dimensi sikap masih cukup tinggi. Jika tidak ditangani dengan baik, sikap tersebut dapat berkembang menjadi tindakan radikalisme,” tegasnya.

Menurut Prof. Husniyatus, hasil survei menjadi dasar bagi FKPT Jawa Timur untuk terus memperkuat program edukasi kepada masyarakat, khususnya kelompok perempuan, remaja, dan anak yang menjadi sasaran utama penyebaran paham radikal melalui media sosial.

Ia juga mengajak para tokoh agama, pendidik, pemerintah, dan masyarakat untuk memenuhi ruang digital dengan konten-konten yang menyejukkan, moderat, dan memperkuat persatuan bangsa.

“Mari kita bijak menggunakan media sosial dan bersama-sama menyebarkan konten yang menebarkan kedamaian, persatuan, dan harmoni. Dengan demikian, kita dapat mewujudkan Indonesia yang aman, damai, dan terbebas dari paham radikalisme,” pungkasnya. (Muha/Fikri)

Tinggalkan komentar