Gandeng Warga Desa Sebani, Tim KKN 25 Umsura Edukasi Pengelolaan Sampah Berkelanjutan dari Rumah

Pasuruan, syiarmu.com – Permasalahan sampah masih menjadi tantangan yang dihadapi banyak desa, termasuk Desa Sebani, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan. Keterbatasan akses menuju tempat pembuangan sampah serta menumpuknya sampah di beberapa titik menjadi persoalan yang memerlukan perhatian bersama.

Berangkat dari kondisi tersebut, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 25 Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) menggelar kegiatan Penyuluhan Pengelolaan Sampah Organik untuk Lingkungan Berkelanjutan sebagai bentuk edukasi sekaligus upaya meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah secara lebih bertanggung jawab.

Program kerja ini tidak disusun secara spontan, melainkan berdasarkan hasil survei dan observasi lapangan yang dilakukan mahasiswa selama awal pelaksanaan KKN. Mahasiswa melakukan pemetaan kondisi lingkungan dengan berdiskusi bersama perangkat desa, tokoh masyarakat, dan warga untuk mengidentifikasi persoalan yang paling mendesak.

Dari hasil survei tersebut diketahui bahwa lokasi tempat pembuangan sampah berada cukup jauh dari kawasan permukiman sehingga sebagian masyarakat mengalami kesulitan untuk membuang sampah secara rutin. Kondisi tersebut menyebabkan sampah rumah tangga menumpuk di beberapa lokasi dan berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan maupun lingkungan.

Melihat kondisi tersebut, Mahasiswa KKN Kelompok 25 memandang bahwa penyelesaian persoalan sampah tidak cukup hanya melalui kegiatan pembersihan lingkungan, tetapi perlu diawali dengan peningkatan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan sampah sejak dari sumbernya. Atas dasar itulah penyuluhan mengenai pengelolaan sampah organik dipilih sebagai salah satu program kerja yang diharapkan mampu memberikan dampak jangka panjang bagi masyarakat Desa Sebani.

Kegiatan penyuluhan dihadiri oleh Kepala Desa Sebani, perangkat desa, anggota Karang Taruna, kader masyarakat, serta warga yang antusias mengikuti seluruh rangkaian acara. Kehadiran berbagai unsur masyarakat tersebut menunjukkan bahwa persoalan sampah merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan kolaborasi antara pemerintah desa, masyarakat, dan perguruan tinggi.

Dalam pemaparannya, mahasiswa menjelaskan bahwa sampah merupakan sisa kegiatan sehari-hari manusia maupun proses alam yang berbentuk padat. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 2012, pengelolaan sampah bertujuan mengurangi dampak negatif terhadap kesehatan dan lingkungan sekaligus meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya. Peserta juga diperkenalkan mengenai dua jenis utama sampah, yaitu sampah organik dan sampah anorganik.

Mahasiswa menjelaskan bahwa sampah organik berasal dari sisa makhluk hidup, seperti sisa makanan, daun, kulit buah, dan limbah dapur yang mudah terurai secara alami. Sebaliknya, sampah anorganik berasal dari bahan nonhayati seperti plastik, kaca, logam, dan berbagai jenis kemasan yang membutuhkan waktu sangat lama untuk terurai. Pemahaman mengenai perbedaan kedua jenis sampah tersebut menjadi dasar penting agar masyarakat dapat melakukan pemilahan sampah sejak dari rumah.

Selain menjelaskan klasifikasi sampah, mahasiswa juga memaparkan berbagai sumber timbulan sampah yang berasal dari aktivitas rumah tangga, perdagangan, industri, maupun pertanian. Meskipun berasal dari berbagai sektor, sampah rumah tangga menjadi penyumbang terbesar yang dapat dikendalikan melalui perubahan perilaku masyarakat.

Materi kemudian dilanjutkan dengan penjelasan mengenai dampak penumpukan sampah terhadap kesehatan, lingkungan, serta aspek sosial ekonomi. Sampah yang tidak dikelola dengan baik berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya berbagai vektor penyakit, mencemari tanah dan sumber air, menghasilkan bau tidak sedap, hingga menurunkan kualitas lingkungan permukiman. Tidak hanya itu, penumpukan sampah juga dapat mengurangi nilai estetika desa serta menambah beban pemerintah dalam pengelolaan kebersihan lingkungan.

Sebagai solusi, mahasiswa memperkenalkan berbagai metode pengelolaan sampah organik, mulai dari penumpukan, pembakaran, sanitary landfill, hingga pengomposan. Dari beberapa metode tersebut, pengomposan dijelaskan sebagai alternatif yang paling ramah lingkungan karena mampu mengubah sampah organik menjadi pupuk yang bermanfaat bagi tanaman sekaligus mengurangi volume sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir.

Mahasiswa juga menekankan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah sangat bergantung pada partisipasi masyarakat. Langkah sederhana seperti memilah sampah organik dan anorganik sejak dari rumah, membuang sampah pada tempatnya, mengurangi kebiasaan membakar sampah, serta memanfaatkan sampah organik melalui pengomposan merupakan bentuk kontribusi nyata yang dapat dilakukan oleh setiap keluarga dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Suasana penyuluhan berlangsung interaktif. Setelah sesi pemaparan materi selesai, masyarakat diberikan kesempatan untuk berdiskusi secara langsung mengenai berbagai persoalan yang mereka hadapi dalam pengelolaan sampah sehari-hari. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan, baik oleh masyarakat maupun anggota Karang Taruna.

Salah satu pertanyaan datang dari perwakilan Karang Taruna Desa Karanglo yang menanyakan kemungkinan pemerintah desa menjalin kerja sama dengan pengelola sampah di desa lain untuk menampung sampah plastik masyarakat menggunakan sistem pembelian berdasarkan berat.

“Apakah pihak desa bisa bekerja sama dengan pengelola sampah desa lain untuk menampung plastik warga dengan sistem bayar per kilogram, agar masyarakat lebih semangat memilah sampah dan tidak membakarnya secara mubazir?” tanyanya.

Menanggapi pertanyaan tersebut, mahasiswa menjelaskan bahwa kerja sama antardesa merupakan salah satu alternatif yang dapat dipertimbangkan apabila fasilitas pengelolaan sampah anorganik di Desa Sebani masih terbatas. Sampah plastik yang telah dipilah dapat disalurkan kepada mitra pengelola atau pengepul sehingga memiliki nilai ekonomi sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan. Menurut mahasiswa, pemberian insentif ekonomi juga dapat menjadi salah satu cara untuk meningkatkan motivasi masyarakat dalam memilah sampah.

Mahasiswa menjelaskan bahwa penanganan sampah yang sudah menumpuk perlu dilakukan secara bertahap melalui kegiatan pembersihan bersama yang melibatkan masyarakat dan pemerintah desa. Setelah kondisi lingkungan mulai bersih, diperlukan sistem pengelolaan yang berkelanjutan, seperti pembentukan kelompok pengelola sampah, penjadwalan pengumpulan sampah secara rutin, serta memastikan adanya kerja sama dengan pengepul atau pihak yang siap menerima sampah hasil pemilahan. Dengan demikian, bank sampah tidak hanya menjadi tempat penampungan sementara, tetapi benar-benar berfungsi sebagai sarana pengelolaan dan pemberdayaan masyarakat.

Selain itu, mahasiswa menilai bahwa tantangan terbesar bukan hanya persoalan teknis, melainkan perubahan perilaku masyarakat. Oleh karena itu, edukasi yang dilakukan secara berkelanjutan, pemberian contoh oleh pemerintah desa dan tokoh masyarakat, serta adanya manfaat ekonomi yang dapat dirasakan secara langsung diyakini mampu meningkatkan partisipasi warga dalam memilah sampah.

Pertanyaan lain yang tidak kalah menarik adalah mengenai langkah nyata untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah.

Menjawab hal tersebut, mahasiswa menyampaikan bahwa membangun kesadaran lingkungan membutuhkan proses yang tidak singkat. Perubahan perilaku harus dimulai dari keluarga melalui kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah. Selanjutnya, pemerintah desa, Karang Taruna, kader lingkungan, dan masyarakat perlu terus melakukan edukasi serta memberikan contoh nyata agar budaya menjaga kebersihan lingkungan dapat tumbuh secara bertahap.

Diskusi berlangsung semakin menarik ketika Kepala Desa Sebani turut memberikan tanggapan terhadap berbagai masukan yang disampaikan masyarakat. Beliau mengapresiasi inisiatif Mahasiswa KKN Umsura yang mengangkat isu pengelolaan sampah sebagai program kerja karena dinilai sesuai dengan kebutuhan desa saat ini.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Desa juga menyampaikan bahwa pemerintah desa terbuka terhadap berbagai bentuk kolaborasi dalam mengembangkan sistem pengelolaan sampah yang lebih baik. Menurutnya, persoalan sampah tidak dapat diselesaikan oleh pemerintah desa saja, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk generasi muda melalui Karang Taruna.

Bagi Mahasiswa KKN Kelompok 25, penyuluhan ini bukan sekadar kegiatan penyampaian materi, melainkan bagian dari proses pemberdayaan masyarakat agar mampu menemukan solusi terhadap persoalan lingkungan yang dihadapi. Keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya ditentukan oleh tersedianya fasilitas, tetapi juga oleh tumbuhnya kesadaran kolektif untuk menjaga kebersihan lingkungan secara konsisten.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa berharap masyarakat Desa Sebani semakin memahami pentingnya memilah sampah sejak dari rumah, memanfaatkan sampah organik menjadi sesuatu yang bernilai, serta mengurangi kebiasaan membakar maupun membuang sampah sembarangan. Kesadaran tersebut diharapkan dapat menjadi fondasi dalam mewujudkan lingkungan desa yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.

Program penyuluhan ini sekaligus menjadi implementasi nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang pengabdian kepada masyarakat. Dengan mengedepankan pendekatan partisipatif, Mahasiswa KKN Universitas Muhammadiyah Surabaya berupaya menghadirkan solusi yang tidak hanya menjawab persoalan saat ini, tetapi juga mampu membangun budaya peduli lingkungan yang berkelanjutan. Sinergi antara mahasiswa, pemerintah desa, Karang Taruna, dan seluruh masyarakat diharapkan menjadi langkah awal dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif, sehingga Desa Sebani dapat berkembang menjadi desa yang bersih, sehat, dan berwawasan lingkungan. (Tim KKN 25/Fikri)

Tinggalkan komentar