Probolinggo, syiarmu.com – KKN Kelompok 11 Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA) melaksanakan kegiatan Pemaparan Program Kerja dan Konsep Teknologi Tepat Guna (TTG) pada Sabtu (18/7/2026) di Balai Desa Alassapi, Kecamatan Banyuanyar, Kabupaten Probolinggo. Kegiatan ini dihadiri sekitar 50 peserta yang terdiri atas mahasiswa KKN, perangkat desa, serta masyarakat Desa Alassapi.
Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan program kerja yang akan dilaksanakan selama masa Kuliah Kerja Nyata (KKN) sekaligus mengenalkan inovasi Teknologi Tepat Guna berupa alat pencacah dan komposter sampah organik manual dengan pemotong ganda untuk percepatan pembuatan pupuk kompos.
Inovasi tersebut dirancang untuk membantu masyarakat mengolah sampah organik rumah tangga, seperti sisa makanan, daun, sayuran, serta ampas tahu dan tempe menjadi pupuk kompos yang bermanfaat bagi pertanian. Acara diawali dengan pembukaan oleh Dewi Fortuna Puspita Sari selaku pembawa acara, dilanjutkan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Muhammad Aditya Gupta.

Selanjutnya, Ketua KKN Kelompok 11, Arya Budi Rahman Fadylah, menyampaikan sambutan mengenai tujuan pelaksanaan program kerja serta pentingnya kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat dalam menyukseskan seluruh program KKN.
Memasuki sesi inti, Mohammad Aqsa Fitrananda memaparkan konsep Teknologi Tepat Guna (TTG) beserta desain prototipe alat yang telah dikembangkan oleh tim KKN. Dalam pemaparannya dijelaskan bahwa alat tersebut bekerja secara manual dengan mekanisme pencacahan menggunakan pemotong ganda sehingga menghasilkan ukuran sampah yang lebih kecil dan mempercepat proses dekomposisi.
Mahasiswa juga menjelaskan tahapan penggunaan alat, mulai dari pemilahan sampah organik, proses pencacahan, pencampuran bio-aktivator (EM4 atau kotoran sapi), pematangan kompos, hingga panen pupuk kompos padat dan pupuk organik cair (POC).
Selama pemaparan berlangsung, peserta tampak menyimak materi dengan penuh perhatian. Masyarakat dan perangkat desa mengikuti setiap penjelasan mengenai proses pengolahan sampah organik serta manfaat penerapan Teknologi Tepat Guna sebagai solusi pengelolaan limbah yang dapat diterapkan di lingkungan desa.


Antusiasme peserta semakin terlihat pada sesi diskusi dan tanya jawab. Berbagai pertanyaan disampaikan oleh masyarakat, mulai dari jumlah kotoran hewan yang digunakan dalam proses pengomposan, jenis kotoran yang paling sesuai, tingkat kelembapan bahan, efektivitas penggunaan dan pengaktifan EM4, kapasitas alat, sistem kerja alat, hingga estimasi biaya apabila masyarakat ingin memiliki alat tersebut secara pribadi.
Selain mengajukan pertanyaan, masyarakat juga memberikan berbagai masukan terhadap pengembangan Teknologi Tepat Guna tersebut. Salah satunya adalah usulan agar pada program KKN berikutnya mahasiswa dapat mengembangkan teknologi pengolahan limbah sampah plastik mengingat permasalahan sampah plastik masih menjadi tantangan di Desa Alassapi.
Warga juga mengusulkan agar Universitas Muhammadiyah Surabaya dapat mendukung pengadaan beberapa unit alat TTG sehingga dapat dimanfaatkan secara lebih luas oleh masyarakat di setiap dusun. Mahasiswa KKN memberikan penjelasan terhadap seluruh pertanyaan dan masukan yang disampaikan masyarakat. Diskusi berlangsung secara interaktif sehingga peserta memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai penggunaan alat serta proses pembuatan pupuk kompos yang efektif.

Setelah sesi diskusi selesai, kegiatan dilanjutkan dengan sambutan dari Penanggung Jawab Desa Alassapi, Bapak Latifudin, S.Ag., M.M. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi dan dukungan terhadap program kerja serta inovasi Teknologi Tepat Guna yang diperkenalkan oleh mahasiswa KKN.
Beliau berharap inovasi tersebut dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dalam mengolah sampah organik menjadi pupuk yang bernilai guna, sekaligus menjadi solusi pengelolaan sampah yang berkelanjutan di Desa Alassapi.
Kegiatan ditutup dengan harapan dari mahasiswa KKN Kelompok 11 UMSurabaya agar Teknologi Tepat Guna yang telah diperkenalkan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh masyarakat Desa Alassapi.
Melalui inovasi ini, diharapkan pengelolaan sampah organik di desa menjadi lebih efektif, menghasilkan pupuk yang bermanfaat bagi pertanian, serta mendukung terciptanya lingkungan yang lebih bersih, produktif, dan berkelanjutan. (Naufal Labib Widi Fakhry/Fikri)
