Surabaya, syiarmu.com – Pada Rabu (5/3/2025) diadakan kajian tarawih 1446 H Masjid Al-Islam yang bertempat di Jl. Tambak Asri No. 204 Surabaya.
Pemateri dalam kajian tarawih adalah Ustadz Ferry Yudi Antonis S, MPdI. Dalam pembukaannya, Ferry menyampaikan tema tentang “Akal, Agama, Rasa Malu, dan Amal Sholeh.”
Pertama, Ferry menyampaikan tentang akal.
Allah menciptakan hewan dengan hawa nafsu tanpa diberi akal. Manusia Allah SWT ciptakan memiliki akal dan hawa nafsu, sedangkan malaikat diciptakan memiliki akal, tetapi tidak diberi hawa nafsu.

“Jika seorang manusia tidak bisa memaksimalkan akalnya untuk berbuat lebih baik dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT maka manusia tersebut lebih buruk dari pada hewan,” tegas Ketua MPKS PDM Surabaya itu.
Jika seorang manusia bisa menggunakan akalnya dan memaksimalkan hawa nafsunya untuk taat kepada Allah dan Rasulnya, maka manusia tersebut lebih mulia dari malaikat.
Allah berfirman dalam surat Adz-dzariyat ayat ke-56 yang berbunyi:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
Artinya : “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.”
Sebagai manusia hendaknya menggunakan akalnya untuk beribadah kepada Allah SWT.
Ferry menyampaikan materi yang kedua yakni tentang agama. Agama itu adalah nasihat bagi siapa saja yang mau memegang teguh ajaran agama.

Andai agama ini tidak ada di muka bumi ini, maka dunia ini akan penuh dengan kehancuran dan kebiadaban. Hal itu karena hanya agama yang mampu membentengi manusia itu bisa sehat akalnya.
Beragama tidak hanya menjalankan rukun islam seperti shalat, zakat, puasa Ramadhan, umroh, dan haji. Akan tetapi, beragama berarti menjalankan setiap apa yang diperintahkan Allah SWT dan apa yang dilarang-Nya, baik mulai bangun tidur sampai tidur kembali.
Ferry melanjutkan materi yang ketiga yakni rasa malu. “Saatnya kita menjadi pribadi yang menjaga dan merawat rasa malu karena hari ini rasa malu sudah mulai pudar khususnya di kalangan remaja, lebih-lebih rasa malu itu hilang pada pejabat negeri ini,” ujarnya.
Para pejabat melakukan perbuatan korupsi tanpa ada malu lagi, sehingga tidak punya rasa malu menjadi budaya di negeri ini.
Pada bulan Ramadhan ini adalah momentum terbaik untuk menumbuhkan rasa malu, malu kepada Allah karena Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat apa yang hamba kerjakan. “Milikilah rasa malu pada diri sendiri agar bisa memaksimalkan akal dengan baik untuk berbuat kebaikan,” ucapnya.
Ferry menyampaikan materi yang terakhir yakni amal sholeh. Momentum Ramadhan adalah momentum terbaik untuk meningkatkan amal kebaikan. Dunia ini sebentar, puasa yang menahan lapar dan haus 14 jam lamanya, ketika sudah waktu berbuka maka selesai lapar dan haus. Itulah dunia begitu cepat dan singkat sekali nikmatnya.
Akhirat adalah kekal. Dunia hanya sementara. “Mari bersama-sama meningkatkan kualitas amal shalih pada bulan Ramadhan ini agar kelak kita dapat masuk surga,” pungkasnya. (Wahid/Fikri)
